SAMPIT – Perubahan gaya hidup anak-anak dan remaja di era digital dinilai ikut menggerus ruang belajar karakter yang selama ini tumbuh secara alami dalam budaya lokal. Bagi masyarakat Dayak, permainan tradisional justru menjadi “sekolah pertama” yang membentuk sikap, etika, dan kedewasaan generasi muda jauh sebelum mereka mengenal pendidikan formal.
Damang Kepala Adat Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sekaligus Wakil Ketua Forum Koordinasi Damang Kalimantan Tengah, Hermas Bintih Assan, menegaskan bahwa permainan adat Dayak bukanlah aktivitas pengisi waktu luang semata. Setiap permainan mengandung nilai pendidikan yang teruji oleh waktu dan diwariskan lintas generasi.
“Dalam adat Dayak, permainan bukan hanya soal menang atau kalah. Di situ ada proses membentuk kecerdikan, kesabaran, tanggung jawab, dan sikap sportif sejak usia dini,” kata Hermas, Rabu 28 Januari 2026.
Ia mencontohkan permainan Habayang atau Bagasing yang menuntut ketelitian sejak tahap awal. Pemain harus memilih bahan yang tepat, mengolahnya dengan peralatan sederhana, lalu menguji hasilnya dalam pertandingan yang menjunjung kejujuran dan keterampilan.
“Habayang mengajarkan bahwa hasil yang baik lahir dari proses yang benar. Itu simbol kedewasaan dan kemampuan seseorang,” jelasnya.
Nilai serupa juga terdapat dalam permainan Balogo. Menurut Hermas, permainan ini melatih kemampuan berhitung, fokus, serta pengambilan keputusan yang matang. Setiap langkah harus diperhitungkan, karena kesalahan kecil dapat berdampak pada hasil akhir.
“Balogo mendidik anak-anak untuk berpikir sebelum bertindak, tidak tergesa-gesa, dan bertanggung jawab atas pilihannya,” ujarnya.
Sementara Manyipet atau menyumpit, lanjut Hermas, memiliki makna yang lebih dalam. Berakar dari tradisi berburu, sipet tidak hanya mengajarkan ketangkasan fisik, tetapi juga pengendalian emosi dan kedisiplinan. Dalam budaya Dayak, tidak semua orang boleh menggunakan sipet, karena hanya mereka yang dianggap matang secara mental yang berhak memilikinya.
“Manyipet adalah simbol kejayaan, tetapi juga tanggung jawab. Ketangkasan harus dibarengi etika,” katanya.
Hermas menilai, ketiga permainan tersebut membentuk karakter masyarakat Dayak yang berani namun beradab, kompetitif tetapi tetap menjunjung kebersamaan. Nilai ini sejalan dengan falsafah hidup Dayak belum hapakat, penyang hinje simpei huma betang, yang menekankan hidup rukun dan saling menghormati dalam satu komunitas.
Namun, ia mengakui bahwa keberlangsungan permainan tradisional Dayak kini menghadapi tantangan besar. Dominasi gawai, minimnya ruang bermain terbuka, serta semakin renggangnya transfer pengetahuan adat di lingkungan keluarga menjadi ancaman nyata.
“Kalau generasi muda hanya mengenal permainan digital, sementara permainan adat tidak lagi dipraktikkan, maka yang hilang bukan hanya permainannya, tetapi nilai hidupnya,” tegas Hermas.
Karena itu, ia mendorong peran aktif orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah untuk kembali menghidupkan permainan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari lingkungan keluarga, kegiatan ekstrakurikuler sekolah, muatan lokal, hingga festival budaya dan penyediaan ruang publik berbasis kearifan lokal.
“Permainan tradisional Dayak harus terus dimainkan, bukan hanya dikenang. Di sanalah karakter generasi Dayak dibentuk, untuk hari ini dan masa depan,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post