SAMPIT – Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital, Tari Manasai tetap berdiri sebagai penanda identitas dan cara pandang hidup masyarakat Dayak. Lebih dari sekadar tarian penyambutan atau penutup acara, Manasai menyimpan filosofi mendalam tentang keseimbangan hidup, kebersamaan, dan kesadaran akan asal-usul manusia.
Pemilik sekaligus pengajar Sanggar Seni Penyangsangkalemu Sampit, Dody Eka, menuturkan bahwa Manasai lahir dari nilai spiritual masyarakat Dayak yang memandang kehidupan sebagai siklus. Manusia, menurutnya, hidup dari anugerah Ranying Hatala Langit dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
“Filosofi Manasai adalah tentang keharmonisan hidup. Semua akan kembali, anugerah dari Ranying Hatala Langit agar kita hidup seimbang di dunia yang terus berputar, tetapi tetap berpijak pada satu poros dan satu kesatuan,” ujar Dody, Rabu 28 Januari 2026.
Ia menjelaskan, makna tersebut tergambar jelas dalam pola gerak Manasai yang dilakukan secara melingkar. Lingkaran menjadi simbol persatuan dan kesetaraan, di mana setiap orang berdiri sejajar tanpa perbedaan derajat.
“Di mana kita berasal, di situ pula kita kembali. Di mana kita menabur, kelak di situ pula kita menuai. Karena itu manusia harus hidup bersatu dan harmonis,” jelasnya.
Dody menyebutkan, ciri khas Tari Manasai terletak pada langkah kaki tambalik baju yang berputar berlawanan arah, dipadukan dengan gerakan tangan lemu lembai yang lembut dan mengalir. Gerakan tersebut diiringi bunyi gong dan lantunan karungut yang menambah kekhidmatan suasana.
“Semakin tua usia tarian ini, semakin hikmat. Gerakannya mungkin tidak tertata kaku, tetapi tetap berada dalam lingkaran dan mengikuti irama gong,” katanya.
Keunggulan Manasai, lanjut Dody, adalah sifatnya yang inklusif dan mudah dipelajari. Tarian ini bisa diikuti semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, sehingga kerap ditampilkan secara massal dalam upacara adat maupun kegiatan resmi.
Sebagai bentuk komitmen pelestarian, Sanggar Seni Penyangsangkalemu secara konsisten menampilkan Tari Manasai dalam berbagai agenda seremonial, khususnya sebagai penutup acara. Tujuannya bukan sekadar hiburan, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan kepada masyarakat.
Namun, Dody tidak menutup mata terhadap tantangan pelestarian di era media sosial. Ia menilai banyak generasi muda mempelajari Manasai secara instan, hanya untuk kepentingan konten, tanpa memahami makna filosofisnya.
“Banyak yang belajar Manasai hanya satu tarian jadi dari YouTube, tanpa memahami maknanya. Ini cukup meresahkan karena bisa mengaburkan identitas dan pakem tarian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa inovasi dalam seni tari sah-sah saja, tetapi tidak boleh menghilangkan akar budaya. Gerakan dasar Manasai harus tetap menjadi fondasi utama.
“Inovasi boleh, tapi pijakannya tetap Manasai. Gerakan lemu lembai dan langkah tambalik baju harus tetap menjadi identitas,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Dody mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak sekadar menampilkan seni, tetapi juga memahami dan merawat nilai yang terkandung di dalamnya.
“Lestarikan sebelum punah. Dokumentasikan, kenalkan, dan budayakan seni. Hidup dengan seni sampai seni itu bisa menghidupimu, karena kehidupan tidak akan bermakna jika kita tidak memahami seninya,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post