SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan di Kalimantan Tengah. Daerah ini tercatat sebagai salah satu wilayah penyangga pangan utama, setelah Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau, sekaligus menjadi tumpuan dalam pelaksanaan berbagai program nasional di sektor pertanian.
“Secara regional Kotim berada pada posisi ketiga sebagai daerah penyangga pangan di Kalimantan Tengah,”kata Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotim, Permata Fitri, Minggu 25 Januari 2026. Selain posisi strategis tersebut, luas baku lahan sawah yang dimiliki Kotim dinilai sangat mendukung pelaksanaan program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.
“Di Kabupaten Kotawaringin Timur itu merupakan salah satu daerah sebagai penyangga pangan Kalimantan Tengah, nomor satunya Kabupaten Kapuas, nomor duanya Pulang Pisau, nomor tiganya Kotim. Di samping itu luas baku lahan sawah yang kita punya juga sangat mendukung sekali untuk program Bapak Presiden ini,” ujar Permata Fitri.
Ia menjelaskan, program ketahanan pangan nasional yang dilaksanakan di Kotim seluruhnya bersumber dari pemerintah pusat dan mencakup beberapa kegiatan utama. Program pertama adalah perluasan luas baku sawah, yang dilakukan melalui kegiatan pembuatan atau percetakan sawah baru guna menambah areal tanam.
Program kedua adalah peningkatan indeks pertanaman, yang dikenal dengan optimalisasi lahan. Melalui program ini, lahan pertanian yang ada diupayakan dapat ditanami lebih dari satu kali dalam setahun sehingga produktivitas pertanian meningkat secara signifikan. “Yang kedua peningkatan indeks pertanaman, namanya itu dilakukan dengan cara optimalisasi lahan,” jelasnya.
Sementara itu, program ketiga adalah memaksimalkan mekanisasi lahan pertanian, dengan tujuan meningkatkan efisiensi kerja petani, mempercepat proses budidaya, serta menekan biaya produksi melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern. Selain program-program tersebut, Permata Fitri juga menyinggung capaian nasional di bidang pangan.
Dia menyampaikan bahwa secara nasional Presiden Republik Indonesia telah menyatakan Indonesia mencapai swasembada pangan. “Secara nasional, Bapak Presiden pada tanggal 7 Januari kemarin sudah menyatakan bahwa Indonesia sudah swasembada pangan,” katanya. Terkait isu efisiensi anggaran, Permata Fitri menegaskan bahwa pelaksanaan program pertanian di Kotim tidak terdampak.
Hal ini karena pemerintah daerah berperan sebagai pengawal dan pendamping pelaksanaan program yang seluruh pendanaannya berasal dari pusat. “Selama ini di Kabupaten Kotawaringin Timur hubungannya dengan efisiensi, karena kita berfungsi untuk melakukan pengawalan dari seluruh program itu, tidak berpengaruh karena semua yang dikasih pusat kita hanya melakukan pengawalan,” tegasnya.
Ia menambahkan, proses pengawalan program pertanian tersebut dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, agar seluruh program berjalan sesuai target dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan produksi pangan daerah. “Lakukan pengawalan ini banyak tahapan yang kita lakukan,” pungkas Permata Fitri.
Dengan peran strategis sebagai daerah penyangga pangan dan dukungan program nasional yang berkelanjutan, Kabupaten Kotawaringin Timur diharapkan terus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan daerah maupun nasional.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post