SAMPIT – Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyampaikan bahwa kondisi banjir di Kecamatan Tualan Hulu kembali meningkat sejak 4–5 Desember 2025. Kenaikan muka air ini dipengaruhi hujan lebat yang terjadi di wilayah hulu Sungai Mentaya, terutama berdasarkan data Pos Curah Hujan (PCH) Tumbang Sangai yang mencapai 86 mm dan PCH Tumbang Mankup 68,5 mm dalam periode 3–4 Desember 2025.
“Banjir yang sempat menurun tanggal 1 hingga 2 Desember kembali meningkat. Hari ini, 4 Desember, terjadi kenaikan lagi. Pelayanan kesehatan sementara dilakukan dengan mobilitas sungai menggunakan sampan untuk mendatangi pasien-pasien di rumah,” ujar Multazam, Jumat 5 Desember 2025.
Menurutnya, berdasarkan Pos Duga Air (PDA), sejak tanggal 2 sampai 3 Desember 2025 memang terjadi peningkatan signifikan pada muka air. Bahkan, pada patok banjir yang dipasang warga, ketinggian air tercatat 49 cm pada pukul 07.10 WIB dan naik menjadi 60 cm pada pukul 13.37 WIB di hari yang sama.
Kenaikan ini dipicu intensitas hujan tinggi di wilayah utara sungai dan terbukti pada beberapa pos curah hujan yang mencatat kategori hujan lebat.
Multazam menjelaskan, banjir juga merendam fasilitas dan permukiman warga. Setidaknya 1 rumah dengan 1 KK atau 4 jiwa terdampak, termasuk 1 bangunan perkantoran serta fasilitas umum lainnya. Sementara itu, wilayah dengan dampak paling berat berada di Desa Merah dan Luwuk Sampun di Kecamatan Tualan Hulu.
“Di Desa Merah ketinggian air sudah mencapai 60–100 cm. Jalan tanah sepanjang 400–500 meter tidak bisa dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat. Ini menghambat pelayanan kesehatan karena Puskesmas Kecamatan Hulu berada di Desa Merah,” terangnya.
Selain itu, 12 rumah atau 13 KK dengan sekitar 40 jiwa ikut terdampak di desa tersebut, meski tidak ada warga yang mengungsi. Kondisi serupa juga terjadi di Luwuk Sampun, dengan ketinggian air yang sama, yakni 60–100 cm.
“Akses jalan sepanjang sekitar 700 meter terputus sehingga aktivitas warga menjadi terbatas,”bebernya.
Ia menambahkan, akses menuju Desa Tumbang Mujam dari jalur kebun juga tidak bisa dilintasi akibat genangan air. Kondisi ini semakin mempersulit mobilitas masyarakat dan upaya distribusi layanan dasar.
Pihaknya telah melakukan sejumlah langkah penanganan, termasuk koordinasi dengan PLN Ranting Sampit terkait satu unit trafo di Desa Tumbang Mujam yang berpotensi terendam akibat kenaikan air. BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat, Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Kami terus memastikan pelayanan dasar tetap berjalan. Sementara waktu, akses menggunakan moda sungai menjadi pilihan utama karena jalan darat tidak memungkinkan,” kata Multazam.
Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotim telah turun langsung melakukan monitoring di lokasi pada 5 Desember 2025 guna memastikan keamanan warga dan memetakan kebutuhan penanganan lebih lanjut.
Multazam menegaskan pihaknya akan terus bersiaga melihat tren peningkatan curah hujan dalam prakiraan dasarian Desember yang sebagian besar berada pada kategori menengah hingga tinggi di wilayah Kalimantan Tengah.
“Pagi ini di Desa Merah, kedalaman banjir sudah setinggi pinggang orang dewasa. Kami tetap memantau perkembangan di lapangan, memastikan tidak ada warga yang terjebak dan layanan dasar tetap bisa diakses,” tutup Multazam.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post