SAMPIT – Rencana investasi pembangunan smelter di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih dalam tahap awal kajian. Meski sempat terjadi kebocoran air laut di salah satu titik lokasi pengambilan sampel, hal tersebut dipastikan tidak mengganggu proses penelitian yang kini tengah dilakukan oleh pihak investor.
Pelaksana Tugas (Plt) Asisten II Sekretariat Daerah Kotim, Rody Kamislam, mengatakan bahwa saat ini pihak investor masih fokus pada proses pemurnian dan pengambilan sampel di beberapa titik.
“Saat ini masih dalam tahap pemurnian. Ada tiga jenis smelter yang direncanakan, yakni untuk bauksit, pasir kuarsa, dan batubara. Rencana ini masih terus berlanjut,” ujarnya, Jumat 31 Oktober 2025.
Ia menjelaskan, dari hasil pemantauan di lapangan, memang sempat ditemukan kebocoran air laut di lokasi salah satu titik pengambilan sampel. Namun hal itu bukan kendala serius karena investor masih dapat mencari titik lain untuk pengujian.
“Pada saat penggalian salah satu sampel memang terdapat kebocoran air laut, tapi itu hal biasa. Mereka bisa mengambil sampel di lokasi lain, jadi tidak ada masalah berarti,” katanya.
Lebih lanjut, Rody menyampaikan bahwa investor tengah meneliti lahan seluas sekitar 17.000 hektare untuk menentukan area yang paling layak digunakan. Dari total luas tersebut, nantinya hanya sebagian yang akan dipilih setelah melalui analisis mendalam terhadap hasil uji dan kesesuaian tata ruang wilayah.
“Mereka membutuhkan sekitar 17.000 hektare. Setelah semua data terkumpul, baru akan dipastikan berapa luas lahan yang bisa digunakan. Tentunya lahannya harus clean and clear serta sesuai dengan tata ruang,” jelasnya.
Menurutnya, tahap eksplorasi ini merupakan bagian wajar dari proses investasi besar seperti smelter. Investor akan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan data teknis sebelum menetapkan lokasi pasti pembangunan.
“Setiap investasi tidak langsung melakukan aktivitas besar. Mereka harus memastikan dulu kondisi lapangan, potensi bahan baku, dan kesiapan lahan melalui pengumpulan data sebanyak-banyaknya,” terang Rody.
Hingga saat ini, lanjutnya, pemerintah daerah belum menerima laporan resmi terkait hasil sementara atau keputusan akhir dari pihak investor.
“Sampai sekarang belum ada laporan lanjutan mengenai hasil pengambilan sampel maupun kelanjutannya. Mereka masih fokus dalam tahap pemurnian dan pengumpulan data,” ujarnya.
Meski begitu, Pemkab Kotim menilai potensi investasi smelter di Pulau Hanaut masih terbuka lebar. Wilayah tersebut dinilai strategis dan memiliki potensi sumber daya alam yang cukup untuk mendukung pembangunan smelter.
“Untuk sementara, incaran investor ini memang hanya di wilayah Kotim saja. Jadi peluangnya masih besar. Hanya saja kita belum bisa memastikan apakah investasi ini nantinya benar-benar berlanjut atau tidak, karena semua masih tahap awal dan tentu mereka memperhitungkan banyak hal,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post