SAMPIT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum benar-benar reda meski sesekali hujan masih turun. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim meminta masyarakat tetap waspada, karena guyuran hujan yang terjadi tidak selalu menyentuh wilayah-wilayah rawan, seperti lahan gambut maupun titik-titik api potensial.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam menegaskan, tidak semua curah hujan berdampak langsung terhadap pencegahan karhutla. Apalagi jika hujan turun di luar wilayah kritis. “Memang ada beberapa kali hujan, tapi hujan itu tidak harus terjadi di titik karhutla atau di tempat-tempat yang ada gambutnya. Bisa saja turun di daerah utara atau wilayah lain. Jadi tidak bisa mewakili bahwa situasi sudah aman. Kalau tidak tepat lokasi, ya tetap saja terbakar,” ujar Multazam, Sabtu 2 Agustus 2025.
Ia menyebutkan, puncak kemarau tahun ini diprediksi akan terjadi pada Agustus. Meski musim kemarau kali ini lebih pendek dibanding tahun 2023, ancaman kebakaran tetap tinggi. Beberapa wilayah bahkan mengalami kekeringan ekstrem yang berisiko memicu titik api sewaktu-waktu. “Potensi kebakaran tetap ada, terutama jika tidak ada pasokan air yang cukup di wilayah yang terbakar,” lanjutnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD Kotim juga terus memantau situasi di lapangan dan menyiapkan skenario penanganan darurat, termasuk menghitung kebutuhan air dan titik-titik embung terdekat yang bisa digunakan. “Biasanya dalam operasi di lapangan, kami sudah punya dinamika regu yang siap bergerak. Air yang digunakan bisa dari mobil tangki, embung permanen atau portabel yang kita tempatkan di lokasi strategis untuk pengisian cepat,” jelasnya.
Menurut Multazam, embung portabel bisa menampung hingga 4.000 liter air, dan bisa diisi ulang hanya dalam waktu 10 menit jika berada di lokasi yang mendukung. Namun jika lokasi karhutla jauh dari titik air, pihaknya akan mencari sumber alternatif sedekat mungkin. Sementara itu, untuk data akurat sebaran hotspot dan luas lahan terbakar, pihaknya masih menunggu rilis resmi dari Kementerian Kehutanan. Data tersebut biasanya diumumkan pada awal tahun berikutnya setelah dikompilasi melalui citra satelit.
“Biasanya dirilis bulan Januari atau Februari. Nanti kami juga akan minta update datanya per kabupaten agar bisa jadi bahan evaluasi dan perencanaan ke depan,” tegasnya. Situasi ini menjadi pengingat bahwa menghadapi karhutla tidak cukup hanya mengandalkan turunnya hujan. Perlu strategi jangka panjang, peralatan yang memadai, serta kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga alam dari kebakaran yang bisa merugikan banyak pihak.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post