SAMPIT – Upaya penataan sistem persampahan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan hasil positif.
Volume sampah yang dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kini berkurang hingga 50 persen dari kondisi sebelumnya, setelah dilakukan berbagai penataan di depo, penyesuaian jam buang, dan penguatan peran mitra pengangkut.
“Kalau dulu kita bawa lebih dari 30 truk per hari ke TPA, sekarang setelah kita tata, kecepatan angkut meningkat dan yang dibawa ke TPA hanya sekitar 16 sampai 17 truk per hari. Itu sudah setengahnya,” ungkap Kepala DLH Kotim, Marjuki, saat mendampingi Bupati meninjau TPA di Jalan Jenderal Sudirman Km 14, Sabtu 19 Juli 2025.
Ia menegaskan bahwa pengurangan volume tersebut bukan karena pengabaian, tetapi hasil dari sistem pengangkutan yang lebih tertata dan cepat.
“Tidak ada lagi penumpukan. Pengangkutan sekarang lebih cepat, tidak seperti dulu numpuk berhari-hari di bawah baru diangkat. Ini yang membuat volume ke TPA jadi jauh lebih sedikit,” tegasnya.
DLH juga menata ulang sistem buang sampah dengan penyesuaian jam operasional. Masyarakat kini diarahkan membuang sampah sesuai jadwal, dan pemanfaatan depo ditata agar tidak terjadi penumpukan.
“Kita tidak terlalu banyak kompromi sekarang, terutama soal jam buang. Sudah kita atur dari jam 04.00 sampai jam 15.00, jadi 11 jam penuh untuk pelayanan. Depo kita pastikan bersih, bahkan ada yang bersih total,” katanya.
Untuk menjaga kebersihan dan ketertiban, DLH bekerja sama dengan komunitas angkutan mandiri yang tergabung dalam Persatuan Tossa Angkutan Sampah (Pedrosa). Mereka memiliki sekitar 70 anggota aktif dan menjadi mitra penting dalam mengelola waktu buang dan distribusi sampah ke truk pengangkut DLH.
“Mereka ini mitra kita sekarang. Pedrosa tahu persis jam buang, punya pelanggan banyak, dan mereka langsung buang ke dump truck kita. Ini mempercepat proses dan mengurangi beban di TPA,” lanjutnya.
Di sisi lain, DLH juga memaksimalkan fungsi TPA dengan menata ulang pembuangan dan mendorong pemanfaatan lahan. Saat ini, dua zona landfill sudah difungsikan, dan pembuangan diarahkan ke lubang-lubang khusus yang disiapkan agar sampah bisa ditimbun dan ditanami tanaman bermanfaat.
“Lubang-lubang itu kita buat supaya sampah bisa masuk, harapannya bisa menjadi tanah. Jadi bukan cuma satu, tapi banyak lubang yang kita siapkan. Nantinya area ini akan ditanami rumput dan tanaman lain. Yang di samping kantor DLH, saya targetkan dalam dua minggu harus bersih, tidak ada lagi pembuangan di situ,” ujarnya.
Penanganan juga dilakukan dengan pendekatan jangka panjang melalui program Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R). DLH tidak lagi menggunakan istilah “depo” karena TPS 3R menyediakan fasilitas pemilahan dan daur ulang, sehingga sampah yang sampai ke TPA makin sedikit.
“Sekarang TPS 3R sudah mulai berjalan di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kota Besi, Wengga Metropolitan, dan Parenggean. Ke depan, setiap kecamatan harus punya TPS 3R sendiri. Di sana ada pemilahan dan pendaurulangan,” kata Marjuki.
Ia menambahkan, pengurangan volume sampah yang paling efektif justru dimulai dari rumah tangga. Masyarakat diharapkan mulai memilah sampah organik dan non-organik sejak dari sumbernya.
“Kita ingin sampah tidak lagi dianggap jijik atau bau. Sampah itu ada nilai ekonomis dan manfaatnya juga. Kalau dari rumah sudah dipilah, TPS 3R bisa jalan, yang ke TPA tinggal sedikit,” ucapnya.
Marjuki menegaskan bahwa seluruh upaya ini merupakan bagian dari prioritas DLH dalam memperbaiki sistem penanganan sampah di Kotim agar lebih tertata dan berkelanjutan.
“Pak Bupati ingin melihat langsung progresnya, dan tadi sudah kita tunjukkan bahwa semua sudah sesuai rencana. Tidak boleh ada lagi kegiatan yang tidak tersusun. Kita ingin masalah di depo jangan dibawa ke TPA, tapi diselesaikan tuntas. Itu komitmen kita,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post