SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar Rembuk Stunting Tahun 2025 sebagai bagian dari komitmen bersama untuk menurunkan angka stunting secara signifikan.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor ini menjadi momen penting dalam menyatukan langkah seluruh stakeholder, termasuk dunia usaha, organisasi perangkat daerah (OPD), dan masyarakat.
“Alhamdulillah kita semua dalam keadaan sehat walafiat. Hari ini secara resmi saya membuka acara Rembuk Stunting sebagai bentuk komitmen kita bersama dalam penanganan stunting di Kotim,” ujar Halikinnor di hadapan para peserta, Jumat 20 Juni 2025.
Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan perkembangan kognitif serta berpotensi menderita penyakit kronis di masa depan.
“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, ini menyangkut masa depan generasi kita. Oleh sebab itu, pencegahan pada 1.000 hari pertama kehidupan menjadi sangat penting dan membutuhkan dukungan dari semua pihak,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kotim, jumlah balita stunting pada Desember 2024 tercatat sebanyak 2.543 anak atau 19,61 persen dari total 12.966 balita yang ditimbang. Sedangkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan angka stunting di Kotim sebesar 35,5 persen.
Namun, menurut perhitungan internal Pemkab Kotim, terjadi penurunan signifikan hingga 22 persen, meski tetap menunggu verifikasi resmi dari Kementerian Kesehatan.
Untuk menekan angka tersebut, berbagai inovasi telah dilakukan. Di antaranya program Grebek Stunting berupa pemberian susu dan telur untuk 2.167 balita di seluruh wilayah Kotim, pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita di 17 kecamatan, serta pengembangan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di 33 desa.
“Melalui Rembuk Stunting ini, saya berharap muncul inovasi dan kesamaan pandangan dalam menyusun strategi penanganan stunting. Kita perlu sinergi antara perangkat daerah, pemerintah kecamatan, hingga desa untuk menekan angka stunting,” tambah Halikinnor.
Halikinnor mengungkapkan optimismenya bahwa angka stunting di Kotim dapat ditekan hingga di bawah 15 persen pada tahun depan, sejalan dengan target nasional sebesar 14 persen. Namun, ia juga menyoroti masih rendahnya kesadaran sebagian ibu hamil dan orang tua balita untuk datang ke Posyandu.
“Saya minta masyarakat, terutama ibu-ibu hamil dan yang memiliki anak balita, lebih aktif datang ke Posyandu. Di sanalah mereka bisa dipantau dan dibimbing agar anak tidak mengalami stunting,” imbaunya.
Bupati juga berencana mengumpulkan seluruh pengusaha di Kotim, baik melalui pertemuan di Sampit maupun di Jakarta, untuk memastikan keterlibatan sektor swasta. Ia menyayangkan hanya sedikit perusahaan yang sejauh ini aktif membantu penanganan stunting.
“Saya akan tekankan agar semua perusahaan ikut terlibat. Ini kerja besar, dan tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, menjelaskan bahwa Rembuk Stunting tahun ini fokus menyatukan komitmen semua pihak serta mengevaluasi program selama setahun terakhir.
“Kita ingin sinkronisasi program antar-OPD, termasuk dengan pihak swasta, agar kegiatan lebih terarah dan hasil akhirnya bisa benar-benar menurunkan angka stunting,” ujarnya.
Menurut Umar, sinergi dan evaluasi mendalam sangat penting agar program yang dijalankan tidak tumpang tindih dan tepat sasaran. Ia menekankan pentingnya terobosan baru dalam mempercepat penurunan angka stunting di daerah.
Dengan semangat kolaborasi, Pemkab Kotim optimis mampu mencetak generasi yang lebih sehat dan cerdas melalui langkah konkret dan terintegrasi dalam mengatasi stunting.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post