SAMPIT – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam mempercepat penurunan angka stunting tidak hanya diwujudkan melalui program lapangan, tetapi juga melalui penguatan sistem pelaporan berbasis digital.
Salah satu inovasi terbaru adalah peluncuran aplikasi SI LARAS (Sistem Laporan Raport Dapur Sehat Atasi Stunting) yang menjadi platform pencatatan dan pelaporan seluruh kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di tingkat desa dan kecamatan.
Bupati Kotim Halikinnor menyatakan dukungan penuhnya terhadap pemanfaatan aplikasi tersebut sebagai bentuk modernisasi sistem pengawasan dan pelaporan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan gizi keluarga berisiko stunting.
“Aplikasi SI LARAS ini sangat penting karena memudahkan pelaporan kegiatan DASHAT. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi seimbang, tapi juga memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan pangan sehat berbasis kearifan lokal,” kata Halikinnor, Jumat 20 Juni 2025.
Menurutnya, kehadiran aplikasi ini diharapkan mampu mempercepat evaluasi dan penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Data real-time dari desa dan kecamatan akan menjadi dasar dalam menentukan langkah strategis pemerintah dalam mengatasi stunting secara terintegrasi.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kotim, Umar Kaderi menjelaskan bahwa aplikasi SI LARAS dikembangkan untuk menggantikan sistem pelaporan manual yang selama ini digunakan dalam program DASHAT.
“Jadi aplikasi SI LARAS ini adalah aplikasi pelaporan untuk kegiatan DASHAT yang dikelola oleh Dinas DP3AP2KB. Selama ini pelaporan masih manual, jadi dengan aplikasi ini setiap kegiatan di lapangan akan langsung dientri oleh koordinator lapangan,” ujar Umar.
Ia menyebutkan, keunggulan utama aplikasi ini adalah kecepatan dan keakuratan pelaporan. Semua aktivitas yang dilaksanakan di desa dan kecamatan dapat langsung dimasukkan ke dalam sistem, sehingga memudahkan pengawasan dan pemantauan program oleh pemerintah daerah.
Meski demikian, Umar tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada, terutama terkait kendala jaringan internet di beberapa desa.
“Salah satu kendala kita memang masih ada desa-desa yang susah sinyal. Tapi itu bisa diatasi, karena berdasarkan pengalaman kami di Dinas Kesehatan, pelaporan dari pustu-pustu juga sudah menggunakan aplikasi. Biasanya mereka mencatat manual dulu, lalu mencari tempat yang ada sinyal untuk menginput ke aplikasi,” jelasnya.
Dengan peluncuran aplikasi SI LARAS, Pemkab Kotim berharap tidak hanya memperbaiki sistem pelaporan, tetapi juga meningkatkan efektivitas dan efisiensi seluruh program penanganan stunting.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post