SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat telah terjadi sedikitnya 10 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama bulan Mei 2025. Luas lahan yang terbakar ditaksir mencapai kurang lebih 5,9 hektare, dengan sebaran yang didominasi wilayah perkotaan dan pesisir selatan, termasuk bahu jalan di Ujung Pandaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kejadian karhutla ini menjadi sinyal penting bagi semua pihak agar lebih waspada terhadap potensi bencana di musim peralihan menuju kemarau. “Saat kami kunjungan dan uji coba perahu karet ke wilayah Ujung Pandaran, kami menemukan bahu jalan yang sudah terbakar. Kalau bahu jalan sudah terbakar, ini indikasi bahwa ada kelalaian. Bisa saja karena puntung rokok dibuang sembarangan,” ungkapnya saat ditemui usai lokakarya penyusunan dokumen kontingensi karhutla di Sampit, Rabu 11 Juni 2025.
Ia menambahkan bahwa wilayah pantai selatan Kotim memang memiliki vegetasi yang mudah terbakar, khususnya di area bahu jalan dan semak belukar. Menurutnya, penyebaran api bisa berlangsung sangat cepat, terutama jika ada angin kencang yang mempercepat rambatan api. “Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi kami imbau masyarakat untuk lebih peduli. Tidak membuang puntung rokok, tidak membakar rumput sembarangan, itu bagian dari kontribusi nyata dalam pengurangan risiko bencana,” tegasnya.
Multazam mengungkapkan, meskipun curah hujan masih tercatat di beberapa wilayah hingga pertengahan Juni, namun peningkatan titik panas tetap menjadi perhatian. Analisis sementara BPBD menunjukkan bahwa kemunculan hotspot sudah mulai terpantau walaupun belum dalam skala yang membahayakan. “Ini masih bisa dikendalikan, tetapi kami sudah menyiapkan laporan dan analisis untuk diajukan kepada Pak Bupati agar segera dilakukan rapat koordinasi pengendalian karhutla secara total,” tambahnya.
Lebih lanjut, Multazam menegaskan bahwa BPBD tidak akan tinggal diam apabila kejadian kebakaran meningkat dalam skala luas. Penanganan akan melibatkan sinergi seluruh unsur, termasuk Masyarakat Peduli Api (MPA), Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga pemerintah pusat. “Langkah-langkah pencegahan kami dorong terus. Tapi kalau terjadi eskalasi besar dan tidak bisa dijangkau lewat darat, maka opsi heli water bombing bisa dipertimbangkan. Namun itu keputusan di tingkat pusat bersama BNPB,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, BPBD Kotim juga akan mendistribusikan data sebaran titik api dan luas lahan terbakar sebagai bagian dari upaya transparansi informasi dan penguatan koordinasi lintas sektor. Ia berharap masyarakat turut aktif menjaga lingkungan dan memahami bahwa bencana adalah tanggung jawab bersama.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post