SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menyampaikan keprihatinannya terhadap persoalan sampah plastik, khususnya yang mencemari laut dan pantai. Menurutnya, masalah ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi sudah berdampak luas terhadap kesehatan, keselamatan, hingga perekonomian masyarakat pesisir, khususnya nelayan.
“Dari hasil riset dan survei yang dikoordinasikan UNEP (United Nations Environment Programme) di sejumlah lokasi laut dan samudera, diketahui bahwa sampah plastik telah memberikan dampak buruk yang sangat serius. Tidak hanya merusak ekosistem laut dan pantai, tetapi juga melukai dan membunuh biota laut seperti terumbu karang, ikan, penyu, kura-kura, dan burung laut,” ungkap Irawati, Jumat 6 Juni 2025.
Dia menjelaskan bahwa keberadaan sampah plastik di laut juga membahayakan keselamatan pelayaran serta mengancam kesehatan dan nyawa manusia, terutama para nelayan yang sehari-hari bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. Selain itu, sampah plastik juga mengganggu estetika pantai dan laut, sehingga mengurangi daya tarik wisata bahari yang menjadi andalan beberapa daerah di Indonesia.
“Dari aspek ekonomi, dampaknya juga sangat terasa. Biaya pengelolaan sampah, biaya kesehatan, serta biaya pemrosesan akhir menjadi lebih tinggi di daerah-daerah pesisir,” lanjutnya. Belum lagi kerugian yang dialami sektor pariwisata karena menurunnya kunjungan wisatawan, dan meningkatnya biaya operasional kapal nelayan akibat kerusakan alat tangkap yang tersangkut sampah.
Lebih jauh, Irawati menekankan bahwa pendekatan pengelolaan sampah plastik yang hanya dilakukan di hilir, seperti saat sampah sudah sampai ke TPA atau laut, tidak akan menyelesaikan persoalan. Ia mendorong agar pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dari hulu ke hilir, sesuai amanat Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah.
Pengelolaan sampah harus berlandaskan prinsip reduce at source atau pengurangan dari sumber, memandang sampah sebagai sumber daya (waste to resource), serta mencegah pencemaran terhadap lingkungan dan kesehatan. “Kita tidak bisa hanya menunggu sampai sampah menumpuk, lalu mencari cara mengatasinya. Harus dimulai dari awal, sejak produk dan kemasan diproduksi,” jelasnya.
Menurut Irawati, selama industri terus memproduksi dan menjual produk dalam kemasan sekali pakai sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan kesehatan saat menjadi sampah, maka pengelolaan di hilir tidak akan pernah cukup.
Dia berharap kesadaran kolektif, baik dari pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat, bisa dibangun untuk menghentikan siklus pencemaran ini. “Kalau kita ingin lingkungan tetap lestari dan masa depan laut terjaga, maka tanggung jawab atas sampah ini harus kita pikul bersama, dimulai dari rumah tangga, sekolah, usaha, hingga industri besar,” tutupnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post