SAMPIT – Ribuan umat Muslim di Kota Sampit memadati halaman parkir Stadion 29 November untuk menunaikan salat Idul Adha pada Jumat, 6 Juni 2025. Salat Idul Adha berlangsung khidmat dengan imam Dimas Prayuda dan khatib Ustadz Riski Soesilo yang menyampaikan khutbah bertema *”Harapan dan Pengorbanan.”
Dalam khutbahnya, Ustadz Riski mengajak jamaah memaknai hari raya Idul Adha bukan sekadar sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum untuk menumbuhkan rasa syukur, ketakwaan, dan semangat berkorban demi Allah SWT.
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari penyembelihan (Yaumun Nahr),” ujar Ustadz Riski mengutip sabda Rasulullah SAW. Ia menekankan bahwa takbir yang dikumandangkan pada Idul Adha adalah bentuk pengagungan atas kebesaran Allah serta simbol kekuatan spiritual kaum Muslimin.
Dalam khutbah berdurasi lebih dari 30 menit itu, Ustadz Riski mengulas keteladanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, yang menjadi simbol ketaatan dan pengorbanan. Ia menyoroti bagaimana Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih anaknya sendiri, yang kemudian dibalas oleh Allah SWT dengan gelar Khalilullah (kekasih Allah).
“Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim mendahulukan perintah Allah dibandingkan kecintaan kepada anaknya. Dari sinilah kita diajarkan bahwa ketakwaan dan kepatuhan tanpa syarat kepada Allah adalah puncak pengorbanan,” tegasnya.
Khutbah juga menyinggung bagaimana Nabi Ibrahim tetap bersikap lemah lembut kepada ayahnya yang penyembah berhala, serta keteguhan imannya saat dilempar ke kobaran api oleh kaumnya. “Pertolongan Allah selalu datang di titik ujian paling berat, dan hanya untuk mereka yang bersabar dan bertakwa,” ucapnya.
Ustadz Riski juga memperingatkan jamaah agar tidak mencampuradukkan niat ibadah kurban dengan riya (ingin dipuji). “Sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan kurban, tetapi ketakwaan kalian,” katanya.
Di penghujung khutbah, Ustadz Riski mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antar sesama manusia. Ia menyinggung hadis Rasulullah tentang orang yang tampak rajin beribadah, namun kelak di hari kiamat bangkrut karena banyak menzalimi orang lain.
“Jangan sampai amal ibadah selama bertahun-tahun lenyap karena kalian menipu, memfitnah, atau menyakiti sesama. Hablumminallah tidak boleh mengorbankan habluminannas,” pesannya.
(gus/matakalteng)




















Discussion about this post