SAMPIT – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Eka Bahurui berkomitmen memberdayakan masyarakat melalui konsep pendidikan kesetaraan yang terintegrasi dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketua PKBM Eka Bahurui, Suwarno, menjelaskan bahwa konsep tersebut diusung dalam kegiatan Expo Education 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur (Kotim).
“Karena kami di PKBM ini ada juga UMKM-nya, maka konsep yang kami ambil adalah pemberdayaan masyarakat. Manfaatnya sangat besar, terutama untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di PKBM dan menampung anak-anak yang mampu mengolah produk seperti makanan dan minuman,” ujar Suwarno, Selasa 20 Mei 2025.
Suwarno menjelaskan, tujuan utama PKBM adalah membantu masyarakat yang tidak terjangkau pendidikan formal, termasuk mereka yang putus sekolah atau tidak memiliki ijazah.
“Selama ini masih banyak anak-anak yang putus sekolah di Kotim. Bahkan di tiap kecamatan masih ada pendidikan yang belum merata,” tambahnya.
Menurutnya, masyarakat masih banyak yang salah paham mengenai pendidikan kesetaraan.
“Ada yang berpikir jika ikut PKBM bisa langsung dapat ijazah. Padahal, sistemnya sudah disamakan dengan pendidikan formal. Jika seseorang putus sekolah di kelas 1 SMP, maka di PKBM harus melanjutkan dari kelas tersebut,” jelasnya.
Suwarno juga mengungkapkan bahwa PKBM Eka Bahurui berupaya menjangkau masyarakat pekerja, terutama di perusahaan-perusahaan besar di Kotim.
“Banyak pekerja yang ingin meningkatkan kualitas kerja mereka agar bisa naik jabatan. Salah satunya dengan memiliki ijazah. Jadi, kami berharap PKBM ini dapat menjadi solusi bagi mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejauh ini masyarakat sudah mulai memahami pentingnya pendidikan kesetaraan. Namun, Suwarno menekankan bahwa edukasi mengenai sistem dan manfaat PKBM harus terus digalakkan agar semakin banyak masyarakat yang terjangkau pendidikan kesetaraan.
“Kami berharap PKBM bisa terus berkembang dan menjadi wadah bagi masyarakat Kotim, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, yang putus sekolah atau tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Dengan begitu, mereka dapat meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post