SAMPIT – Harga sapi kurban di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), merangkak naik hingga Rp1,5 juta per ekor menjelang Hari Raya Iduladha 2025. Kenaikan harga ini dipicu oleh biaya tambahan karantina dan vaksinasi sapi yang lebih lama dari tahun sebelumnya.
Daeng Beta, pedagang sapi kurban di lapak musiman Jalan HM Arsyad, mengatakan keterlambatan pengiriman sapi dari luar daerah berdampak pada pasokan yang belum stabil. “Tahun lalu, satu bulan sebelum kurban, stok sapi sudah banyak. Tapi tahun ini karantina dan vaksinasi lebih lama, hampir sebulan. Jadi, sapi baru masuk sekitar 60 ekor pekan lalu,” ujarnya, Sabtu, 17 Mei 2025.
Menurut Daeng, pekan depan diperkirakan masuk lagi sekitar 150 ekor sapi. Namun, jumlah total pasokan tahun ini diprediksi hanya mencapai 250 hingga 300 ekor, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 380 ekor. “Kenaikan harga tak terhindarkan. Sekarang harga paling murah Rp18 juta per ekor untuk bobot 75 kg dan tertinggi Rp50 juta untuk bobot 200 kg,” jelasnya.
Kendala lain yang dihadapi pedagang adalah sistem identifikasi ternak di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang belum mampu mendeteksi sapi dari luar daerah, seperti Jawa dan Sulawesi. Akibatnya, pedagang harus menggunakan dokumen dari Banjarmasin, Kalimantan Timur, untuk mendatangkan sapi.
“Kalau tidak mendatangkan sapi dari luar, harga lokal bisa lebih tinggi lagi. Sapi lokal sekarang sudah di atas Rp25 juta, sementara peserta arisan kurban rata-rata punya dana Rp19-20 juta,” tambah Daeng. Meski begitu, Daeng menyebutkan sekitar 30 ekor sapi telah terjual, sebagian besar kepada pelanggan tetap, seperti perusahaan dan warga perorangan.
Namun, ia khawatir daya beli masyarakat tahun ini akan menurun akibat harga sawit yang tidak stabil. Waktu penjualan semakin sempit. Harapannya, sapi bisa habis terjual sebelum Iduladha tiba,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post