SAMPIT – Di tengah gempuran tren kuliner modern, makanan khas Borneo masih menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai pilar ekonomi kreatif yang mampu bersaing di era digital. Andre Ananda Pratama, seorang mahasiswa sekaligus pengamat kuliner lokal, menilai bahwa kekayaan rasa dan budaya Borneo dapat menjadi kekuatan unik jika dikemas dengan konsep kekinian.
“Bayangkan sebuah kedai dengan desain modern namun menyajikan kuliner autentik Borneo. Tempat yang nyaman untuk bersantai, tapi di setiap menunya terselip warisan budaya yang menggugah rasa dan membangkitkan nostalgia,” ujar Andre dalam opininya Sabtu, 10 Mei 2025.
Menurutnya, hadirnya platform digital dan layanan pesan antar online menjadi jembatan penting untuk menjangkau lebih banyak konsumen.
“Lewat media sosial, visual menarik dari makanan khas Borneo bisa memancing rasa penasaran generasi muda. Lewat aplikasi pemesanan, makanan itu bisa hadir langsung di meja makan konsumen tanpa harus ke Kalimantan,” tambahnya.
Andre juga menekankan pentingnya konsistensi rasa dan pelayanan bagi para pelaku usaha kuliner.
“Jika rasa melekat di hati, pelanggan akan datang kembali. Jika pelayanan memberi kesan positif, mereka akan merekomendasikannya,” tegasnya.
Menurutnya, kuliner Borneo bukan sekadar makanan, tapi identitas budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan agar tidak tenggelam oleh derasnya arus modernisasi.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post