SAMPIT – Kotawaringin Timur (Kotim) terancam mengalami krisis transportasi udara jika rencana pengembangan Bandara H Asan Sampit tidak segera direalisasikan. Bupati Kotim Halikinnor mengingatkan, dalam empat tahun mendatang, satu-satunya pesawat komersial yang beroperasi di bandara tersebut, Boeing 737-500 milik Nam Air, kemungkinan besar tak lagi bisa melayani penerbangan.
“Peningkatan Bandara H Asan Sampit tetap menjadi prioritas. Apalagi pesawat Boeing, seperti Nam Air, diperkirakan dalam empat tahun ke depan tidak bisa terbang lagi,” ujar Halikinnor, Sabtu 10 Mei 2025. Hilangnya armada ATR72 dari Wings Air semakin memperparah situasi. Kini, masyarakat Kotim hanya bergantung pada Nam Air yang armadanya semakin terbatas dan usianya makin uzur.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan terputusnya konektivitas udara Kotim dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Untuk mencegah terjadinya stagnasi transportasi udara, Pemkab Kotim mengebut rencana perpanjangan runway dari 2.060 meter menjadi 2.250 meter. Hal ini dilakukan agar bandara dapat melayani pesawat berbadan besar seperti Airbus A320 yang dianggap lebih layak dan efisien.
Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Gedung PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran) harus dipindahkan karena posisinya akan terkena sayap pesawat jika Airbus mulai beroperasi. Saat ini, Pemkab tengah mengupayakan pembebasan lahan 1,8 hektare untuk relokasi gedung tersebut.
Halikinnor berharap Kementerian Perhubungan segera memberikan dukungan penuh agar pengembangan bandara tidak sekadar menjadi wacana. “Jangan sampai nanti Bandara H Asan Sampit tidak bisa didarati pesawat, karena akan menghambat akses transportasi udara ke Jakarta maupun Surabaya,” tandasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post