SAMPIT – Untuk menjawab tantangan stagnasi produksi kelapa sawit nasional, Media Perkebunan bekerja sama dengan P3PI dan GAPKI Cabang Kalimantan Tengah menggelar acara Teknis Kelapa Sawit dan Field Trip (TKS) 2025 di Sampit, Senin 28 April 2025.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mempercepat adopsi teknologi dan peremajaan perkebunan rakyat.
“Stagnansi produktivitas terjadi akibat peremajaan yang terlambat, maraknya penggunaan benih ilegitim, serangan ganoderma, penurunan kinerja serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT),” kata Ketua Panitia Pelaksana, Hendra J Purba, Senin 28 April 2025.
Hendra menjelaskan, peremajaan sawit rakyat menjadi program strategis yang harus terus didorong.
“Pemerintah memiliki Program PSR yang perlu dipercepat. PSR adalah game changer masa depan sawit Indonesia. Karena itu, perlu kampanye masif melawan benih ilegal, membuka akses ke sumber benih unggul legal, dan meningkatkan pemahaman tentang ganoderma serta teknologi pengendaliannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, semua pemangku kepentingan harus diberi edukasi mengenai pentingnya penggunaan benih legal dan bagaimana menghadapi ancaman ganoderma. Untuk mendukung upaya ini, Media Perkebunan menghadirkan pameran benih unggul dan sarana produksi dalam TKS 2025.
“Kami berharap sumbangan kecil ini dapat memberi manfaat besar. Meski ada pula masalah non-teknis, kami siap berkolaborasi dengan siapa pun untuk mengatasi semua tantangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hendra memaparkan kondisi terkini produksi sawit di Indonesia. Yang saat ini, hasil perkebunan rakyat rata-rata hanya sekitar 2,5 ton per hektare, sedangkan perkebunan swasta sekitar 3,5 ton per hektare. Bahkan secara nasional, produksi menurun dari 3,7 ton per hektare pada 2021 menjadi 3,6 ton per hektare di 2023.
Kondisi ini menurutnya harus menjadi perhatian serius semua pihak, sebab produktivitas yang menurun di tengah meningkatnya kebutuhan minyak nabati dunia dapat melemahkan posisi Indonesia sebagai produsen utama.
Sementara Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya TKS 2025 dan mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi mempercepat peremajaan sawit rakyat.
“Sebagai produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia memikul tanggung jawab besar menjaga produktivitas. Dengan kebutuhan minyak sawit domestik yang terus bertambah melalui program B40, kita harus fokus pada intensifikasi berkelanjutan, bukan lagi ekspansi lahan,” ungkap Halikinnor.
Ia menegaskan, percepatan PSR harus menjadi prioritas, dengan solusi konkret terhadap hambatan seperti legalitas lahan.
“Kita juga perlu mengatasi tantangan teknis, seperti penurunan kinerja Elaeidobius, serangan ganoderma, hama, penyakit tanaman, serta memastikan penggunaan benih dan pupuk yang tepat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Halikinnor berharap TKS 2025 dapat memperkuat pemahaman teknis seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui pelatihan teknis, field trip, dan pameran, kita berharap semua pihak bisa memperkuat kapasitas dalam mengelola perkebunan sawit secara produktif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan,” ucapnya.
Menurut Halikinnor, dengan adanya pameran benih dan pupuk, masyarakat juga bisa lebih mengenal produk berkualitas yang menunjang keberhasilan perkebunan.
“Saya menyambut baik pameran ini agar masyarakat luas semakin mudah mendapatkan akses ke benih dan pupuk bermutu,” ujarnya.
Halikinnor mengajak seluruh peserta menjadikan momentum ini untuk memperkuat komitmen bersama membangun industri sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, dan kompetitif.
“Mari kita jadikan TKS 2025 ini sebagai tonggak memperkuat daya saing kelapa sawit, khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur. Semoga acara ini berjalan sukses, memberikan manfaat besar, dan berkontribusi nyata bagi kejayaan sawit nasional,” tutupnya.
TKS 2025 ini turut didukung penuh oleh PT Astra Agro Lestari sebagai sponsor utama, dengan peserta dari berbagai kalangan termasuk petani, perusahaan, dan akademisi.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post