SAMPIT – Dunia perkebunan kelapa sawit Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar, terutama dengan gempuran penerbitan regulasi dari Satgas Pemberantasan Kejahatan Hutan (PKH) yang semakin ketat, meski usia perkebunan yang semakin tua, lebih dari 130 tahun.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalteng, Syaiful Panigoro, menegaskan bahwa meskipun kondisi industri ini tengah berada dalam kesulitan, pihaknya tetap berusaha untuk tidak terhanyut oleh masalah non-teknis yang berkembang.
“Kita ketahui saat ini dunia perkebunan kelapa sawit sedang tidak baik-baik saja. Namun, kita berusaha untuk tidak hanyut dengan kondisi ini. Kalau kita berbicara tentang teknik, semuanya ada resepnya, baik itu benih unggul, pupuk, dan pemberantasan hama. Namun, yang non-teknis ini susah diprediksi, bisa dua hari, tiga hari, atau setahun dan kita tidak tahu sampai kapan,” ujar Syaiful pada acara Teknis Kelapa Sawit dan Field Trip (TKS) 2025 di Sampit, Senin 28 April 2025.
Kelapa sawit Indonesia yang telah berusia lebih dari 130 tahun, menurut Syaiful, memerlukan perhatian lebih terhadap keberlanjutannya, terutama di tengah perubahan regulasi dan peraturan yang terus bergulir.
Menurutnya, meskipun kelapa sawit Indonesia mulai berkembang pesat sejak 1990-an, namun kebijakan yang tidak konsisten, seperti yang diterbitkan oleh Satgas PKH, justru menambah ketidakpastian bagi para pengusaha dan petani sawit.
“Seandainya regulasi itu konsisten, yang ada adalah perbaikan, bukan guncangan seperti yang kita hadapi sekarang. Namun, inilah kondisi kita saat ini, dan kita harus berbesar hati menghadapi masalah ini,” ungkapnya.
Syaiful juga menyampaikan bahwa masalah non-teknis bisa berdampak besar pada industri ini jika tidak segera ditangani, meskipun hal tersebut sulit diprediksi.
Syaiful menyatakan bahwa ketidakpastian regulasi yang kerap kali berubah menjadi salah satu hambatan terbesar bagi industri sawit di Indonesia. Selain itu, ia juga mengkritisi langkah-langkah yang lebih fokus pada masalah non-teknis tanpa memberikan perhatian lebih pada sektor teknis yang menjadi inti dari keberlanjutan produksi kelapa sawit.
“Industri sawit harus berusaha keras agar tetap berkembang. Kita tidak boleh hanya fokus pada masalah non-teknis yang mungkin datangnya tidak terduga. Semua pihak harus memahami bahwa jika masalah teknis ini kita abaikan, dampaknya bisa sangat buruk terhadap hasil produksi,” tegasnya.
Syaiful menekankan bahwa sektor teknis tetap harus menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan produktivitas.
“Kalau kita berbicara tentang teknik, semua ada resepnya. Benih unggul, pupuk, pemberantasan hama. Semua itu harus dipahami dan diterapkan. Namun, jika kita hanya fokus pada masalah non-teknis yang tidak terduga, kita akan kehilangan fokus pada apa yang bisa kita kontrol, yaitu aspek teknis yang akan memberikan dampak langsung pada hasil produksi,”tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa masalah seperti penurunan produktivitas dapat diatasi dengan cara memperbaiki aspek teknis dan terus berusaha menciptakan kolaborasi antara berbagai pihak.
“Kami berharap hari ini kita bisa melaksanakan Teknis Kelapa Sawit dan Field Trip ini, mendapat pembekalan dari para pakar, yang kemudian dapat kita terapkan di lapangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Syaiful juga mengungkapkan harapannya terhadap program peremajaan atau replanting yang mulai dijalankan di beberapa wilayah Kalimantan Tengah.
Ia berharap agar melalui program ini, seluruh petani dan pengusaha kelapa sawit dapat memperoleh manfaat yang besar dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan yang akhir-akhir ini mengalami penurunan.
“Kalimantan Tengah sudah termasuk wilayah yang sudah melakukan replanting. Kami berharap dengan adanya acara ini, kita bisa mendapatkan ilmu yang dapat diterapkan dalam dua hari ke depan untuk meningkatkan produksi yang akhir-akhir ini menunjukkan penurunan. Kita sangat berusaha untuk mencegah agar perkebunan sawit ini tidak mati, karena saat ini kelapa sawit adalah tulang punggung devisa negara,” tambahnya.
Syaiful menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, perusahaan, dan petani untuk menghadapi masalah yang ada. Menurutnya, sinergi yang baik antara seluruh pemangku kepentingan adalah kunci untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas kelapa sawit di Indonesia.
“Kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan petani sangat penting untuk mengatasi tantangan ini. Dengan bersama-sama, kita bisa mewujudkan kelapa sawit Indonesia yang lebih produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing,” tandasnya.
Dengan adanya acara Teknis Kelapa Sawit ini, Syaiful berharap para peserta bisa memperoleh pengetahuan yang berguna untuk meningkatkan hasil perkebunan sawit, terutama di tengah tantangan berat yang dihadapi.
Ia juga menyampaikan harapannya bahwa melalui acara ini, sektor kelapa sawit di Kalimantan Tengah dan Indonesia secara keseluruhan dapat terus berkembang meskipun menghadapi berbagai kendala.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post