SAMPIT – Musim kemarau di kabupaten Kotawaringin Timur untuk tahun 2025 ini diprediksi lebih kering dibandingkan tahun 2024 lalu. Sehingga kewaspadaan diperluas tidak hanya berfokus pada potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), namun juga potensi terjadinya kekeringan pertanian.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandar Udara H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengatakan, berdasarkan Prakiraan musim kemarau untuk daerah kabupaten Kotawaringin Timur khusus wilayah Selatan diperkirakan mulai di bulan Juni Dasarian II.
“Sedangkan wilayah Kotim bagian Tengah, mulai di bulan Juni Dasarian III dan di Utara Kotim bulan Juli Dasarian I. Jadi tiga wilayah ini berbeda untuk awal musim kemarau,”kata Leo Nardo, Kamis 24 April 2025.
Sementara untuk puncaknya, diperkirakan pada bulan Agustus 2025. Dijelaskan, bahwa musim kemarau tahun ini lebih pendek dibandingkan tahun 2024. Namun meski lebih pendek, tingkat kekeringannya masih berpotensi terjadi kebakaran.
“Potensi kebakaran untuk tahun sebelumnya turut dipengaruhi kondisi La Nina sehingga terjadi kemarau basah tapi untuk tahun 2025 ini, kondisi kemarau netral atau kemarau normal. Yaitu terjadi sedikit peningkatan atau lebih kering dari tahun sebelumnya,”jelasnya.
Hal ini mempengaruhi tingkat resiko terjadinya karhutla, meskipun periode lebih pendek namun tingkat resiko terjadinya karhutla lebih tinggi.
“Saat ini di bulan April hingga Mei 2025, kita masih musim hujan dan di bulan Mei akhir sudah masuk musim pancaroba atau perubahan cuaca menuju musim kemarau,”bebernya.
Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam mengatakan, melihat Prakiraan musim kemarau tahun 2025 yang diprediksi lebih panas dibandingkan tahun sebelumnya pihaknya memperluas kewaspadaan, dengan mempertimbangkan rencana pemerintah pusat secara nasional yang telah menetapkan masa tanam untuk swasembada pangan.
“Karena musim kemarau yang terlalu panas akan mempengaruhi pada hasil tanam, sehingga kita perlu ada solusi lebih lanjut untuk mewaspadai terjadinya kekeringan lahan pertanian pada musim kemarau mendatang,”ucap Multazam.
Menurutnya, ketersediaan air harus menjadi perhatian untuk keberlanjutan program ketahanan pangan, sehingga pertanian yang sudah ditanami bisa tetap subur hingga masa panen sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
“Jadi untuk tahun ini antisipasi kita lebih luas. Kalau tahun lalu kita hanya berfokus dan membicarakan potensial saja, namun sekarang kita juga berfokus pada potensi kekeringan lahan pertanian untuk mendukung swasembada pangan,”tandasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post