SAMPIT – Kenaikan harga emas tak hanya membuat pasar perhiasan bergairah, tapi juga mengerek angka inflasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada Maret 2025 secara tahunan (year-on-year/y-on-y).
Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, menyebut emas perhiasan menyumbang inflasi sebesar 0,34 persen, dari total inflasi tahunan yang mencapai 0,93 persen. “Lima komoditas utama pemicu inflasi di Sampit adalah emas perhiasan, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), kopi bubuk, dan cabai rawit,” ujar Eddy dalam rilis resmi, Minggu 13 April 2025.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Sampit kini berada di angka 106,26, mencerminkan kenaikan harga secara tahunan. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak yakni makanan, minuman, dan tembakau yang naik 1,74 persen, serta jasa perawatan pribadi yang melonjak hingga 6,09 persen.
Sektor lain yang juga mengalami kenaikan mencolok, pendidikan: naik 5,37 persen, penyediaan makanan dan minuman: naik 3,32 persen, rekreasi dan budaya: naik 2,98 persen. Namun, ada kabar baik juga. Beberapa sektor justru mengalami penurunan, seperti perumahan dan utilitas rumah tangga yang turun 4,72 persen dan transportasi yang melemah 0,78 persen.
Untuk inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m), Maret 2025 tercatat cukup tinggi di angka 1,77 persen, sedangkan inflasi sepanjang tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) masih tergolong terkendali, yakni 0,39 persen. Tarif listrik justru memberikan angin segar dengan kontribusi deflasi tertinggi, menurunkan inflasi sebesar 0,60 persen secara y-on-y.
Selain itu, penurunan harga beras, telur ayam ras, angkutan udara, dan tomat juga ikut menahan laju inflasi. “Kami berharap data ini bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan, terutama untuk pengendalian inflasi yang sangat dipengaruhi fluktuasi harga komoditas pokok,” tutup Eddy.
Sebagai catatan, lonjakan harga emas perlu diwaspadai, karena efeknya tidak hanya ke kantong konsumen, tetapi juga ke ekonomi secara makro. Pemerintah daerah diminta lebih proaktif dalam pengawasan harga dan penguatan ketahanan pangan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post