SAMPIT – Meski terdampak efisiensi anggaran Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Kotawaringin Timur berkomitmen tetap mengoptimalkan pengelolaan sampah selama Ramadan yang biasanya terjadi peningkatan volume sampah rumah tangga.
“Biasanya saat Ramadan ini ada peningkatan volume sampah Namun kita akan mengupayakan salah satunya dengan cara menggeser jam pembuangan sampah yang biasanya dari pagi sampai siang sekarang kita geser menjadi siang sampai sore, sehingga ada jeda pembuangan sampah dan pengangkutan dari depi ke TPA,”kata Plt Kepala DLH Kotim Marjuki, Rabu 26 Februari 2025.
Dirinya juga berkomitmen untuk terus memberdayakan sumber daya yang ada baik itu sarana prasarana serta SDM yang tersedia. Khususnya dalam pengangkutan sampah di 8 depo yang tersebar di Kota Sampit, agar mengurangi tumpukan sampah dan mengurangi bau yang menyebar dari depo.
“Sementara untuk pasar Ramadan nantinya pengelolaan sampah menjadi kewenangan kewajiban dari para pedagang sendiri agar menyediakan tempat sampah, karena dalam pengelolaan sampah tidak serta-merta semua menjadi tanggung jawab DLH namun perlu kerjasama dan kesadaran semua pihak untuk membuang sampah pada tempatnya,”tegas Marjuki.
Dirinya berharap masyarakat yang membuang sampah ke depo tidak hanya asal lempar namun dibuang dengan benar di tempat yang telah disediakan agar sampah tidak berserakan dan mengakibatkan bau tidak sedap.
“Pengelolaan sampah ini memang secara bertahap dimulai dari kesadaran masyarakat, dan DLH sendiri sudah memiliki beberapa konsep untuk pengelolaannya namun saat ini karena kondisi efisiensi maka kita hanya bisa mengoptimalkan apa yang sudah ada saat ini,”ucapnya.
Meski demikian dirinya mengakui bahwa saat ini penumpukan sampah di Kota Sampit sudah mulai berkurang. Akan tetapi masih perlu ditingkatkan agar pengeluaran sampah di Kabupaten Kotim menjadi lebih baik.
“Sebenarnya kita ingin melakukan pengadaan armada khususnya untuk pengelolaan sampah di TPA, namun anggaran di DLH terdampak efisiensi kurang lebih 50% sehingga pengadaan armada tertunda. Padahal sekarang ini alat kita yang tersedia untuk pemrosesan akhir di TPA hanya ada dua dan itu pun sering rusak,”ungkapnya.
Untuk itu dirinya berharap kedepan ada kerjasama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan sampah di TPA. Mengingat jika melakukan pengadaan prosesnya akan lebih panjang.
“Kemarin kita hanya bisa melakukan pembukaan jalur-jalur agar sampah bisa dibuang ke bagian belakang TPA. Sementara untuk pengadaan alat kita tunda karena memerlukan anggaran yang lebih besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama, alternatifnya kita melakukan penyewaan alat,”kata Marjuki.
Dirinya juga mengakui selain kekurangan alat dalam pengelolaan di TPA pihaknya juga masih kekurangan armada pengangkut sampah untuk 8 depo yang ada. Yang mana saat ini hanya ada 8 truk pengangkut sampah untuk 8 depo yang terdiri dari 4 depo besar dan 4 depo kecil, sementara idealnya memerlukan 15 truk pengangkut.
“Keberadaan depo pun masih kurang seperti di kecamatan Baamang yang masih ada satu depo, seharusnya jika mempertimbangkan penduduknya yang kurang lebih 75.000 memerlukan sekitar 3 depo. Kemudian di jalan Sawit Raya juga sudah ada hibah lahan untuk pembangunan depo dari masyarakat, namun hal itu juga belum bisa kita realisasikan karena keterbatasan anggaran,”ujarnya.
Meski dalam keterbatasan anggaran dirinya mengaku akan terus mengoptimalkan SDM dan armada yang ada. Karena meskipun armada sudah cukup tua, semua masih bisa beroperasi lantaran perawatan yang dilakukan terhadap armada cukup baik selama ini.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post