SAMPIT – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyebutkan, saat ini Kabupaten Kotim masih belum mencapai target eliminasi filariasis meskipun dalam beberapa tahun terakhir sudah melaksanakan pemberian obat pencegahan massal (POPM) sejak tahun 2007.
“Penyakit kaki gajah atau filariasis di beberapa wilayah endemis di Kabupaten Kotim masih tergolong tinggi. Hal itu berdasarkan hasil survei terbaru yang merupakan persyaratan untuk pelaksanaan transmission assessment survey (TAS) menuju eliminasi,” kata Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi, Sabtu 28 Desember 2024.
Menurutnya, berdasarkan survei yang dilaksanakan pada awal Desember 2024 menemukan bahwa di desa Luwuk Bunter dan desa Sudan masing-masing mikrofilaria ratenya masih 5,2 persen dan 3,2 persen.
“Itu masih lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan untuk dapat maju ke tahap TAS yaitu kurang dari satu persen. Oleh karena itu kami akan terus bekerja keras untuk mengoptimalkan distribusi obat agar memastikan cakupan yang lebih luas,” tegasnya. Selain itu tambah Umar, pihaknya juga akan berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan penyakit ini.
“Untuk pencegahan massal melalui pemberian obat yang sudah dilaksanakan sejak 2007 hingga 2021 sudah mencapai cakupan lebih dari 65 persen. Namun hal itu masih belum menurunkan prevalensi mikrofilaria di beberapa desa endemis. Untuk itu Kotim akan melakukan POPM dengan obat baru yang lebih efektif, yaitu kombinasi Ivermectin, Deethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendozole (IDA),” tutupnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post