SAMPIT – Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari dokter dan bidan dari 15 Puskesmas di kabupaten Kotawaringin Timur mengikuti kegiatan The Job Training Deoksiribo Nukleic Acid Human Papillomavirus dan Inspeksi Visual Asam Asetat (DNA HPV dan IVA) (Co-Testing) di Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2024.
Kegiatan yang dilaksanakan di aula Dinas Kesehatan kabupaten Kotim ini menghadirkan dua narasumber terdiri 1 orang dokter dan 1 orang bidan yang telah dilatih.
“Kegiatan OJT DNA HPV ini dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dokter dan bidan untuk deteksi dini kanker leher rahim dengan Deoksiribo Nukleic Acid Human Papillomavirus dan Inspeksi Visual Asam Asetat (DNA HPV dan IVA) secara kombinasi (Co-Testing),”kata Kepala Dinkes Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho, Kamis 12 Desember 2024.
Materi yang diberikan meliputi teori dan praktik pengambilan spesimen. Yang mana, Human Papillomavirus (HPV) merupakan virus Deoksiribo Nukleic Acid (DNA) yang dapat menyebabkan kutil kelamin dan kanker serviks atau kanker leher rahim.
“Kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan serius yang menjadi ancaman bagi perempuan di seluruh dunia,”tegasnya.
Pada tahun 2022, kanker leher rahim merupakan kanker dengan urutan keempat tertinggi pada perempuan sebesar 604.127 kasus atau 6,5% dari seluruh kanker dan sekitar 341.831 perempuan (7,7%) meninggal karena penyakit tersebut.
Di Indonesia, kanker leher rahim merupakan kanker kedua tertinggi pada perempuan dengan kasus baru sebanyak 36.633 kasus atau 17,2% dari seluruh kanker dan menyebabkan 21.003 kematian (19,1%) dari seluruh kematian akibat kanker di Indonesia.
“Kanker leher rahim telah dapat dicegah dengan vaksinasi HPV dan deteksi dini secara berkala untuk menemukan adanya lesi prakanker, sehingga dapat dilakukan tindak lanjut segera untuk mencegah perkembangan ke arah kanker leher rahim,”jelasnya.
Pada kenyataannya kata Nugroho, kanker leher rahim masih tetap menjadi penyebab kematian terbesar kelima di dunia berdasarkan data Globocan tahun 2020. Hal ini tidak lepas dari kurangnya logistik vaksin HPV, kurangnya skrining kanker leher rahim dan kurangnya kesadaran masyarakat, serta lemahnya promosi kesehatan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan pencegahan kanker leher rahim.
“Selama ini, pemeriksaan atau deteksi dini kanker leher rahim yang sudah popular adalah Pap smear dan inspeksi visual asetat (IVA) test. Seiring dengan waktu, deteksi dini kanker leher rahim terus berkembang, di mana saat ini telah digunakan pula deteksi dini menggunakan tes Deoksiribo Nukleic Acid Human Papillomavirus (DNA HPV),”terang Nugroho.
Berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO), tes DNA HPV ini merupakan metode deteksi dini kanker leher rahim dengan sensitivitas tinggi yang aman, dapat diterima, dan efektif dibandingkan dengan metode deteksi dini kanker leher rahim lainnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post