SAMPIT – Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur saat ini tengah menyelidiki dugaan adanya aliran sesat yang diterima berdasarkan laporan masyarakat.
“Kami sudah ada menerima laporan dan saat ini masih diselidiki apakah laporan itu benar atau tidak adanya perkembangan mengenai aliran sesat. Karena sebenarnya kita akui bahwa perkembangan aliran sesat ini sudah sedemikian rupa, oleh karena itu perlu kita berikan pengertian kepada pengurus MUI sampai pada kecamaran supaya bisa mencegah hal tersebut,” kata Ketua MUI Kotim Amrullah Hadi, Minggu 13 Oktober 2024.
Dia berharap, jangan sampai terjadi karena akan sangat mengganggu ketentraman umat, dan jika ketentraman umat Islam ini terganggu maka daerah juga akan terganggu. “Kita sebagai mitra pemerintah berusaha supaya jangan sampai hal ini terjadi, memang jika di Jawa sudah banyak dan di Indonesia ini untuk pertumbuhan aliran-aliran itu sangat subur bahkan banyak yang mengaku menjadi nabi serta banyak pengikutnya,”bebernya.
Untuk itu MUI Kotim juga sudah melakukan upaya-upaya meminimalisir agar hal itu tidak terjadi, salah satunya dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui tokoh-tokoh agama di daerah ini, sebab tidak semua mengerti bagaimana ajaran sesat itu.
“Terutama karena umat Islam ini adalah umat yang mayoritas dan kalau mayoritas ini terganggu maka negara juga ikut terganggu. Mengingat agama dan negara ini seperti saudara kembar, agama tanpa negara tidak bisa berkembang demikian juga negara tanpa agama juga tidak bisa berkembang,” ucapnya.
Oleh karena itu kata Amrullah, agama harus dipelihara yang merupakan peran pihaknya sebagai MUI untuk menjaga kedamaian agama dan negara serta memelihara umat dan negara agar aman.
“Umat Islam ini harus bersatu jangan sampai bertikai, apalagi di Kotim ini ada 86% lebih umat Islam yang ada di daerah ini. Oleh karena itu yang banyak ini, harus kita pelihara. Itulah makanya pemerintah sangat berharap kepada MUI, karena tanggung jawab terhadap umat Islam demikian besar,” imbuhnya.
Oleh karena itu menurutnya, MUI bersama pemerintah memelihara agama dan negara untuk menciptakan kedamaian, karena bagaimanapun baiknya program pemerintah, jika tidak ada agama tidak akan bisa jalan. Ia mencontohkan seperti di Palestina.
Sementara itu, Pj Sekda Kotim Sanggul Lumban Gaol menyampaikan, bahwa bibit aliran sesat itu pasti ada. Karena banyak manusia yang ingin supaya ajaran apa yang dimilikinya itu bisa diterima oleh masyarakat lain.
“Jadi ada pembenaran bagi dirinya jika diakui yang lain, makanya kita harus cermat, kalau sudah lepas dari Alquran dan hadis, itu sudah menjadi permasalahan,”ucapnya.
Menurut Sanggul, manusia memang sangat bermacam-macam bahkan ada yang mengaku sebagai Nabi, karena mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia, tetapi manusia yang sempurna. Sehingga mereka menganggap diri mereka juga bisa menjadi nabi.
“Pertanyaannya manusia seperti apa, harusnya itu disadari. Pemikiran itu yang harus kita pahami. Kita berharap masyarakat dapat memahami betul-betul agar tertuntun sesuai dengan ajaran kita,” tutupnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post