SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) melakukan antisipasi penumpukan penumpang kapal di Pelabuhan Sampit pada libur Natal dan Tahun Baru 2024 atau Nataru.
“Saat ini kami tengah berkoordinasi dengan instansi yang berkaitan. Karena diperkirakan libur Nataru akan terjadi peningkatan penumpang di Pelabuhan Sampit,” kata Bupati Kotim, Halikinnor, Kamis 21 Desember 2023.
Disampaikannya, terjadinya peningkatan itu tentu perlunya antisipasi. Hal yang dikhawatirkan adalah keterlambatan kapal tiba di pelabuhan lantaran kandas atau pengaruh alam lainnya, maka akan terjadi penumpukan penumpang.
Lanjutnya, jika terjadi hal tersebut maka pihaknya akan mengambil langkah seperti menyediakan tempat bagi para penumpang yang menunggu kehadiran kapal. Hal ini untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat.
“Antisipasi penumpang kalau terjadi keterlambatan kapal karena terkendala sungai surut atau pengaruh alam.
seperti penampungannya gimana atau antisipasi gimana. Semua kita antisipasi,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit, Muhammad Hermawan menyebut pada libur Nataru ini akan ada peningkatan penumpang sekitar 20 persen atau ada 5.414 orang di Pelabuhan Sampit
“Meski mengalami peningkatan jumlah penumpang namun arus tidak seramai saat Idul Fitri. Tapi ini tetap menjadi perhatian serius karena Pelabuhan Sampit menjadi salah satu daerah dari 108 pelabuhan di Indonesia yang dipantau oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,” ujarnya.
Ditambahkannya, ada empat armada yang akan melayani penumpang dari Pelabuhan Sampit yakni milik PT Pelni dan PT Dharma Lautan Utama. Total kapasitasnya sebanyak 2.593 orang dan diperkirakan akan cukup untuk mengangkut seluruh calon penumpang.
Tingginya jumlah penumpang di Pelabuhan Sampit, diperkirakan karena selain libur atau cuti Nataru juga berbarengan dengan libur sekolah. Sehingga selama itu jumlah penumpang mencapai lima ribu lebih orang.
Pihaknya bersama pemerintah daerah berupaya memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat atau mencegah terjadinya penumpang yang terlantar.
“Calon penumpang dari perkebunan juga menjadi kelompok yang dominan karena mungkin mengambil kegiatan libur bersama dan berbarengan libur anak sekolah sehingga mungkin orang tuanya yang bekerja di kebun kembali ke daerah masing-masing untuk merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga di daerah Jawa dan sekitarnya,” tuturnya.
(dev/matakalteng)






















Discussion about this post