SAMPIT – Jumlah keseluruhan kasus stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan di tahun 2023 menjadi 20,7 persen. Angka tersebut berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) dari Dinas Kesehatan Kotim.
“Sejak tahun 2019 sampai sekarang Kotin telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu kabupaten lokus penanganan stunting. Dan sejak itu stunting ini menjadi prioritas kita, ” kata Bupati Kotim Halikinnor saat membuka rembuk stunting, Rabu 12 Juli 2023.
Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018 angka prevalensi stunting di Kabupaten Kotim sebesar 48,84 persen tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng), tetapi pada tahun 2022 mengacu kepada data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan RI angka prevalensi stunting di Kotim sebesar 27,9 persen.
“Sedangkan mengacu kepada E-PPGBM dari Dinas Kesehatan Kotim data prevalensi stunting di Kotim per Juni 2023 sebesar 20,7 persen,” sebutnya.
Meski ada penurunan, namun masih ada lima kecamatan dengan angka stunting tertinggi yaitu Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Cempaga Hulu, Baamang dan Kecamatan Tualan Hulu.
Oleh sebab itu, upaya penurunan angka stunting di Kotim masih harus ditingkatkan agar target penurunan syang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebesar 14 persen pada tahun 2024 dapat tercapai.
Pemkab Kotim berupaya menekan angka stunting dengan melaksanakan upaya pencegahan statis secara terintegrasi dengan melibatkan struktur holder dan sumber daya yang tersedia.
“Melalui rembuk stunting pada hari ini saya juga berharap akan dapat menghasilkan inovasi program dan kegiatan dalam penanganan stunting di Kotim dan diharapkan dapat menghasilkan kesamaan pandangan dan persepsi dalam penanganan stunting sehingga program dan kegiatan yang dilaksanakan perangkat daerah termasuk desa akan saling terintegrasi dan bersinergi, ” terangnya.
(dev/matakalteng.com)





















Discussion about this post