SAMPIT – Mushola As’salam yang berada di Desa Terawan, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan menjadi primadona belakang ini. Pasalnya desain bangunan yang unik menyerupai pura, banyak menarik perhatian warga khsusnya Umat Islam untuk melaksanakan ibadah sholat lima waktu di Mushola tersebut.
Pengurus Mushola As’salam sekaligus pencetus berdirinya Mushola ini yaitu Basuki mengatakan, bangunan Mushola tersebut dibuat dari limbah kayu ulin. Dimana ide ini muncul ketika pihaknya khususnya masyarakat desa setempat melihat limbah kayu ulin dari perusahaan yang tidak terpakai. Bangunan Mushola As’salam ini diketahui, 90 persennya terbuat dari limbah kayu ulin. Sementara untuk dindingnya sendiri dipasang menggunakan pasak dengan ketebalan 10 cm.
Sedangkan untuk luasan lahan Mushola mencapai 25 x 22 meter dengan luas bangunan Mushola bagian dalam 7 x 7 meter dan luas bangunan luar 11 x 11 meter. “Sebenarnya tidak ada motivasi khusus dari pribadi untuk membuat Mushola sehingga sebagus ini dan menjadi terkenal, tujuan kita cuma satu untuk kepentingan Umat Islam di sini, lebih khususnya berbagi untuk kepentingan umum,” kata Basuki, Sabtu 30 Oktober 2021.
Sebelumnya diketahui, Basuki pernah terpuruk dalam usaha bisnisnya hingga akhirnya bangkit kembali dan bisa membangun Mushola ini untuk kepentingan orang banyak. “Saya dulu terlahir dari orang yang tidak berada, kemudian mengalami kebangkuran dalam usaha. Namun saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bangkit kembali, sehingga saya terinspirasi untuk membuat Mushola untuk bisa digunakan banyak orang,” ujarnya.
Sementara untuk desain bangunan yang menggambarkan keberagaman budaya tersebut, dirinya mengaku merupakan ide dari ia pribadi. Dimana ia berharap dengan desain bangunan ini, semua umat beragama bersatu dengan memegang teguh rasa kemanusiaan. “Waktu pembangunan Mushola ini dibutuhkan selama tiga tahun untung merampungkan berbagai unsur kebudayaan di dalamnya. Yaitu ada unsur kebudayaan Jawa, Dayak dan Banjar. Dan mulai diresmikan pada 7 Juli 2017,” ungkapnya.
Dirinya berharap, dengan desain bangunan dan lokasi Mushola yang strategis di pinggir jalan besar ini agar memunculkan lebih banyak masyarakat yang mau mengelola Mushola ini bersama-sama. “Paling tidak bisa kita buat tempat-tempat seperti madrasah kedepannya nanti. Terlebih tujuan lain kita membangun Mushola ini di pinggir jalan, agar bisa digunakan oleh masyarakat dari daerah lain yang kebetulan melakukan perjalanan dan ingin beristirahat serta melakukan ibadah bisa singgah di Mushola ini,” sebutnya.
Menurutnya, kegiatan di Mushola As’salam selain ibadah lima waktu juga ada kajian rutin setiap malam Jum’at nya, serta anak-anak kecil juga belajar mengaji Al Quran. “Mushola ini bisa menampung sekitar 40 hingga 50 jemaah, semoga kedepannya bisa terus kita kembangkan lagi,” tandasnya.
(dia/matakalteng.com)





















Discussion about this post