SAMPIT – Ketua Umum Fordayak Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) M Saleh Suadi melalui Ketua Harian Sarenus Selpius meminta kepada Ketua Pengurus Persaudaraan Setia Hati Teratai ( PSHT) Cabang Kotim, Susanto, agar mencopot jabatan Heriyanto sebagai Ketua PSHT ranting Mentawa Baru Ketapang.
“Kami minta jabatan bapak Heriyanto di copot. Dia kurang berkompeten sebagai ketua. Terlebih kejadian seperti sudah dua kali dialami korban. Dia tidak melaporkan tindak pidana penganiayaan ini. Kita tidak boleh tebang pilih, jika memang ada tindak pidana, maka laporkan. Siapa pun itu orangnya, jangan dibiarkan. Kita bahas tentang kemanusiaan,” kata Sarenus Selpius ditengah pertemuan dengan pengurus PSHT Cabang Kotim disaksikan anggota kepolisian setempat di Rumah Betang Taman Miniatur Sampit, Jumat 14 Februari 2020.
Heriyanto diminta mundur lantaran dinilai lalai dalam mendidik anggota perguruannya. Saat pertama kali terjadi penganiayaan, Heriyanto meminta kepada para pelaku untuk membawa korban ke kediamannya. Disana korban diminta menandatangani surat perjanjian dengan tanda tangan di atas materai 6000.
Dalam perjanjian tersebut menerangkan jika korban harus siap dan bersedia mengikuti segala pelatihan yang dilakukan PSHT. Heriyanto menjamin tidak akan ada lagi terjadi penganiayaan, jika pun ada, maka dirinya yang akan bertanggung jawab.
“Bapak (Heriyanto) sudah salah. Pasca kejadian pertama, seharusnya bapak membuatkan surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak, bukan perjanjian seperti ini. Jadi, karena ini adalah kelalaian bapak, jadi kami minta anda untuk mengundurkan diri. Belajar lagi agar bisa jadi pemimpin yang lebih bijak,” sebut Sekretaris Fordayak Kotim, Wartati Sri Wahyuni atau yang sering disapa Shella.
Humas Fordayak Kotim, Sudarmo R Nehang menegaskan, apabila kejadian serupa ini terjadi kembali, maka pihaknya dengan terpaksa menghentikan segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh PSHT di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.
“Apabila hal ini terjadi lagi, maka dengan berat hati kami minta angkat kaki dari Bumi Tambun Bungai ini. Segala bentuk PSHT akan kami bubarkan. Ini adalah peringatan terakhir. Kami tidak mau langsung melakukan pembubaran. Kami masih berpegang pada falsafah Huma Betang, makanya kita duduk bersama di rumah betang ini,” kata Sudarmo R Nehang.
(shb/matakalteng.com)





















Discussion about this post