PANGKALAN BUN – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) melalui Dinas Kesehatan kabupaten setempat, menggelar sosialisasi deteksi dini kanker serviks dengan metode HPV DNA di Brits Hotel Pangkalan Bun, Rabu 25 Juni 2026. Sosialisasi diikuti oleh Organisasi Wanita se Kobar, tenaga kesehatan dari 18 Puskesmas, serta lintas sektor terkait di wilayah kerja kabupaten Kotawaringin Barat.
Kegiatan sosialisasi dihadiri narasumber dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Tim TOT Tatalaksana HPV DNA, dan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG), dan dibuka secara langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kotawaringin Barat, Rodi Iskandar.
Diketahui saat ini kanker leher rahim (serviks) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada perempuan di Indonesia. Padahal, penyakit ini sejatinya dapat dicegah dan dideteksi sejak dini.
Rody Iskandar menyampaikan, tantangan dalam pencegahan penyakit semakin kompleks, tidak hanya dari penyakit menular seperti TBC, HIV, dan DBD, tetapi juga dari penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kanker. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi yang komprehensif dan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapinya.
“Kanker leher rahim merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dan dideteksi sejak dini. Pemeriksaan HPV DNA adalah salah satu metode paling akurat dan sensitif untuk mengetahui infeksi Human Papillomavirus sebelum muncul gejala. Saya berharap kaum perempuan usia 30–69 tahun tidak ragu melakukan pemeriksaan secara rutin,” terangnya.
Kepala Dinkes Kobar Achmad Rois menambahkan bahwa sosialisasi yang dilaksanakan merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan On the Job Training (OJT) deteksi dini kanker leher rahim yang telah dilaksanakan di 18 Puskesmas pada Desember 2024 lalu. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode HPV DNA bekerja sama dengan Laboratorium Kesehatan Daerah sebagai laboratorium rujukan.
Dijelaskannya bahwa kanker secara global, menjadi penyebab kematian utama dengan 18,1 juta kasus baru dan 9,6 juta kematian setiap tahunnya. WHO telah menetapkan strategi eliminasi kanker leher rahim melalui pendekatan 90-70-90, yang bertujuan menekan angka kejadian menjadi kurang dari 4 per 100.000 penduduk. Pemerintah Indonesia merespons melalui Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030.
Menurutnya, sosialisasi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi masyarakat dalam deteksi dini kanker serviks. “Kita berharap kegiatan ini mampu memperkuat peran OPD, organisasi wanita, dan tenaga kesehatan dalam percepatan eliminasi kanker leher rahim di Kobar.
(lih/matakalteng)






















Discussion about this post