PALANGKA RAYA – Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 kembali menghadirkan berbagai atraksi budaya khas Kalimantan Tengah dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah.
Salah satu yang menyita perhatian pengunjung yakni Lomba Lawang Sakepeng yang digelar di Area GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya. Pada tahun ini, lomba kategori putra diikuti 13 peserta dari lima kabupaten dan kota, sedangkan kategori putri diikuti tujuh peserta dari empat kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah.
Lawang Sakepeng merupakan seni tradisi Dayak yang biasa ditampilkan untuk menyambut tamu maupun dalam prosesi adat pernikahan. Atraksi tersebut memadukan unsur seni, budaya, dan bela diri tradisional Dayak.
Dalam penampilannya, peserta memperagakan seni bela diri tradisional Dayak dengan rangkaian simbolis pemutusan tiga benang yang dibentangkan di pintu lawang sakepeng. Tradisi tersebut memiliki makna mendalam sebagai simbol perjuangan dan penerimaan hubungan baru yang harmonis.
Pemutusan benang pertama oleh pihak tamu melambangkan putusnya rintangan hidup, dilanjutkan benang kedua oleh tuan rumah sebagai simbol menghilangkan kesialan, dan benang terakhir diputus bersama sebagai tanda diterimanya tamu atau mempelai laki-laki.
Salah satu peserta kategori putra asal Desa Telaga, Kabupaten Katingan, Saiful (19), mengaku telah melakukan persiapan matang sebelum tampil di FBIM 2026. “Sebelum tampil biasanya kami latihan sekitar satu minggu supaya penampilannya lebih mantap dan akurat,” ujarnya, Rabu 20 Mei 2026.
Ia mengatakan, sebelumnya timnya juga pernah mengikuti perlombaan serupa di Kasongan dalam ajang Penyang Hinje Simpei. Menurut Saiful, suasana kompetisi di FBIM jauh lebih meriah karena jumlah peserta lebih banyak dibanding perlombaan sebelumnya. “Kalau di Kasongan pesertanya lebih sedikit, sedangkan di sini kategori putra ada 13 peserta dan juga ada kategori putri,” katanya.
Ia menyebut, dalam satu tim terdapat sekitar 12 orang yang terdiri dari pemain, pelatih, hingga pemusik pengiring pertunjukan. Saiful menjelaskan, inti pertunjukan lawang sakepeng bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menampilkan seni bela diri dan budaya tradisional yang diwariskan turun-temurun.
“Yang ditampilkan sebenarnya seni, budaya, dan bela diri tradisional. Setiap daerah atau perguruan juga punya gerakan dan ciri khas masing-masing,” jelasnya. Ia menambahkan, tradisi lawang sakepeng memiliki makna sebagai bentuk bela diri dan pembelajaran menjaga diri yang diwariskan sejak dahulu.
Meski mengikuti perlombaan, Saiful menegaskan tujuan utama mereka bukan semata mengejar kemenangan, melainkan ikut melestarikan budaya Kalimantan Tengah. “Juara atau tidak bukan masalah utama. Yang penting budaya ini tetap lestari dan dikenal masyarakat,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post