SAMPIT – Lonjakan jumlah pasien gagal ginjal yang membutuhkan layanan cuci darah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi perhatian serius legislatif.
Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang Siswanto, menilai RSUD dr Murjani Sampit belum mampu menangani kebutuhan pasien secara maksimal, sehingga sebagian besar pasien terpaksa dirujuk ke luar daerah.
“Kami tidak menyalahkan rumah sakit karena memang dari sisi kesiapan alat dan kapasitas layanan mereka terbatas. Tapi ini harus segera dicari solusi. Jangan sampai masyarakat terus terbebani hanya karena layanan dasar seperti cuci darah belum bisa dipenuhi di daerah sendiri,” ujarnya, Senin 28 Juli 2025.
Saat ini, kata Dadang, ada ratusan pasien yang secara rutin harus menjalani hemodialisa. Akibat keterbatasan alat dan SDM, banyak di antara mereka yang harus ke Palangka Raya setiap dua minggu sekali.
“Beban itu sangat berat, baik secara finansial maupun secara psikologis. Karena itu kami menyarankan, sambil menunggu layanan di Sampit diperkuat, pemerintah daerah harus menyiapkan rumah singgah bagi pasien-pasien kita yang dirujuk ke Palangka Raya,” tegasnya.
Menurutnya, gagasan rumah singgah adalah bentuk kehadiran negara dalam meringankan penderitaan masyarakat.
“Mereka itu bukan berlibur ke Palangka Raya. Mereka bertaruh nyawa untuk bertahan hidup. Kalau daerah belum bisa menjawab secara medis, minimal bantu secara sosial. Rumah singgah adalah bentuk kepedulian itu,” kata Dadang.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa DPRD siap mendukung segala upaya manajemen RSUD dr Murjani untuk mengoperasionalkan alat-alat yang selama ini belum difungsikan.
“Kami siap support dari sisi anggaran, tapi dari sisi teknis tentu itu ranah manajemen rumah sakit. Kami harap itu bisa segera direalisasikan karena antrean pasien semakin panjang,” imbuhnya.
Data dari RSUD dr Murjani Sampit menunjukkan, per Juli 2025, masih ada 273 pasien dalam daftar tunggu layanan cuci darah. Dari jumlah tersebut, 216 merupakan warga Kotim dan 57 lainnya berasal dari luar daerah.
Plt Direktur RSUD dr Murjani, dr Yulia Nofiany, membenarkan kondisi tersebut.
“Pasien yang membutuhkan layanan hemodialisa terus bertambah. Dengan alat yang ada saat ini, kami belum bisa mengakomodasi seluruh permintaan. Karena itu sebagian pasien masih harus dirujuk,” ungkapnya.
Dengan kondisi ini, kebutuhan untuk mengembangkan layanan hemodialisa di RSUD dr Murjani semakin mendesak. Sementara itu, ide rumah singgah di Palangka Raya diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek yang meringankan beban pasien dan keluarganya.
“Kalau nanti Sampit sudah bisa menangani setidaknya separuh dari jumlah pasien, rumah singgah itu tetap dibutuhkan untuk sisanya yang masih harus ke luar daerah. Ini soal kemanusiaan,” pungkas Dadang.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post