SAMPIT – Komoditas rotan yang sempat menjadi komoditas andalan kabupaten Kotawaringin Timur kini dinilai semakin merosot bahkan hanya tersisa sekitar 30% rotan yang tersedia di kabupaten Kotim. Hal itu disampaikan oleh seorang pengusaha rotan di Kotim Dahlan Ismail.
“Karena sekarang ini kita akui banyak masyarakat yang menebang rotan mereka dan menggantikannya dan menjadi lahan penanaman kelapa sawit,”ujarnya, Kamis 30 Januari 2025.
Karena memang lanjutnya, secara ekonomi saat ini perkebunan kelapa sawit dinilai lebih menjanjikan keuntungan besar, apalagi bisa dipanen dua kali dalam sebulan sementara rotan hanya bisa dilakukan panen dua tahun sekali.
“Namun kalau saya saat ini masih mempertahankan kebun rotan dan menampung rotan hasil panen dari para petani di sejumlah Kecamatan untuk dijual ke industri di Cirebon,”bebernya.
Menurutnya, sektor rotan mengalami penurunan sejak diberlakukanya larangan ekspor rotan mentah pada akhir 2011 lalu. Sehingga banyak pengusaha rotan yang gulung tikar, termasuk di Kotim lantaran banyak rotan menumpuk hingga membusuk tidak ada pembeli.
“Dampaknya, pengusaha tidak mampu membiayai pekerja dan memilih tutup. Di tempat saya saja, sekarang pekerjanya hanya sekitar 60 orang. Dulu lebih dari 200 orang. Larangan ekspor itu memang langsung berdampak,”beber Dahlan.
Dirinya mengaku prihatin pada kondisi sektor rotan saat ini. Padahal Ia menilai rotan masih cukup menjanjikan jika Pemerintah membuat regulasi yang lebih menguntungkan petani dan pelaku usaha rotan.
“Misalnya melalui kebijakan membuka kembali ekspor rotan dengan sistem buka tutup atau menggunakan kuota. Karena rotan merupakan hasil budidaya sehingga keberlangsungannya terjaga, seharusnya ekspor rotan mentah tetap diizinkan, karena tidak berdampak buruk terhadap lingkungan,”jelasnya.
Justru menurutnya, mempertahankan kebun rotan berarti otomatis mempertahankan hutan, karena rotan memerlukan tegakan pohon tempat rotan tumbuh merambat.
“Padahal sejak dulu sektor rotan berjalan secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja sangat banyak sehingga membawa dampak besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di desa,”imbuhnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post