SAMPIT – Produksi telur ayam ras dari peternak lokal di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berjalan setiap hari hingga mencapai ribuan butir. Namun, jumlah tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan, sehingga pasokan telur dari luar daerah, terutama Pulau Jawa, masih menjadi penopang utama ketersediaan komoditas tersebut di Kotim.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Arif Rahman Hakim, mengatakan saat ini terdapat sekitar 37 peternak ayam petelur yang masih aktif di Kotim. Meski jumlah produksi terus meningkat, kemampuan peternak lokal baru dapat memenuhi sekitar 15 hingga 20 persen dari total kebutuhan telur masyarakat.
“Kalau dihitung secara keseluruhan, produksi peternak lokal baru mampu memenuhi sekitar 15 sampai 20 persen kebutuhan masyarakat Kotim. Selebihnya masih dipasok dari luar daerah, terutama dari Jawa. Karena itu, harga dari produsen di Jawa sangat berpengaruh terhadap harga telur di daerah kita,” ujar Arif Rahman Hakim, Senin 29 Juni 2026.
Ia menjelaskan, kapasitas produksi setiap peternak berbeda-beda. Peternakan miliknya yang memiliki sekitar 6.500 ekor ayam petelur mampu menghasilkan sekitar 6.000 butir telur setiap hari. Sementara beberapa peternak lainnya yang memiliki populasi ayam lebih besar bahkan mampu memproduksi hingga 30 ribu butir telur per hari.
Meski demikian, jumlah tersebut masih belum cukup untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat Kotim sehingga distribusi telur dari luar daerah tetap menjadi kebutuhan.
Menurut Arif, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah juga membuat harga telur di Kotim sangat dipengaruhi kondisi pasar di Pulau Jawa. Saat harga di daerah pemasok mengalami penurunan, peternak lokal ikut terdampak meski biaya produksi di daerah masih tinggi.
“Yang menjadi persoalan sekarang, harga telur turun sudah hampir tiga bulan terakhir, sementara biaya produksi justru meningkat. Harga pakan yang sebelumnya sekitar Rp385 ribu per sak sekarang naik menjadi Rp425 ribu. Jadi biaya produksi naik, tetapi harga jual telur turun drastis,” katanya.
Selain biaya pakan, peternak juga harus mengeluarkan biaya rutin untuk vaksinasi, obat-obatan, vitamin, hingga perawatan kesehatan ayam yang semakin menambah beban operasional.
Arif mengungkapkan kondisi tersebut membuat banyak peternak kesulitan mempertahankan usahanya. Bahkan, apabila harga terus berada di bawah biaya produksi, tidak menutup kemungkinan akan ada peternak yang menghentikan usahanya.
Ia juga menyoroti belum dirasakannya penurunan harga telur oleh masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan peternak di lapangan, harga di tingkat distributor sudah turun cukup tajam, namun harga di tingkat eceran masih relatif tinggi.
“Kami sempat melakukan pengecekan ke pasar. Ternyata masyarakat tidak menikmati harga telur yang turun. Kami menjual dengan harga murah, tetapi ketika sampai di pasar harganya tetap mahal. Itu yang menjadi persoalan karena peternak yang paling terdampak,” ungkapnya.
Sebelum harga anjlok, telur ukuran besar dijual sekitar Rp320 ribu hingga Rp330 ribu per ikat. Kini harganya merosot menjadi sekitar Rp255 ribu per ikat, sehingga margin keuntungan peternak semakin menipis.
Arif berharap langkah Pemerintah Kabupaten Kotim yang melakukan peninjauan ke distributor serta rencana menggelar rapat dengar pendapat bersama distributor, agen, dan peternak dapat menghasilkan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan harga di semua tingkatan.
“Kami berharap harga telur bisa kembali normal sehingga peternak tetap bisa bertahan. Kalau kami mengikuti harga yang terlalu murah, kami rugi. Tapi kalau menjual lebih tinggi, agen tidak mau membeli. Mudah-mudahan ada solusi yang baik bagi semua pihak,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)
















Discussion about this post