SAMPIT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan mulai menjadi perhatian serius di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan sejumlah wilayah dipetakan sebagai daerah berisiko tinggi sehingga penanganan akan difokuskan secara berjenjang mulai dari desa hingga kabupaten.
“Kami per hari ini, kemarin hari Kamis juga sudah melakukan pertemuan internal dengan Kecamatan Teluk Sampit, yang mana Kecamatan Teluk Sampit itu adalah daerah risiko tinggi. Dan sudah kolaborasi juga baik aparat kecamatan, kemudian para perwakilan kepala desa, kemudian ada beberapa perusahaan, ada tiga perusahaan HTI yang ada di sana, dan kita membangun komitmen untuk penanggulangan ancaman kebakaran hutan dan lahan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Senin 27 April 2026.
Ia menjelaskan, selain ancaman karhutla, pihaknya juga menyoroti potensi kekeringan yang dapat berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir seperti Ujung Pandaran.
“Di sana juga kami menyampaikan terkait dengan ancaman kekeringan. Dan Alhamdulillah mudah-mudahan itu bisa kita tanggulangi dengan pembuatan sumur-sumur artesis di sana. Jadi informasi kepala desa di Ujung Pandaran cukup kedalaman 8 meter sudah bisa layak konsumsi, tetapi itu pada saat sekarang, bagaimana pada saat musim kemarau. Mudah-mudahan apa yang kita akan hadapi ini bisa kita tanggulangi,” katanya.
Namun demikian, Multazam mengakui terdapat kekhawatiran khusus di Kecamatan Pulau Hanaut yang memiliki keterbatasan sumber air layak konsumsi berdasarkan hasil pemetaan sebelumnya.
“Kami agak khawatir di Kecamatan Pulau Hanaut. Di sana pernah dilakukan mapping terhadap ketersediaan air bawah tanahnya dan rata-rata tidak layak konsumsi. Jadi berharap ini tinggal air dari dalam hutan yang turun, kemudian dilakukan sekat-sekat dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Ke depan, BPBD Kotim akan melanjutkan koordinasi ke sejumlah kecamatan lain, termasuk Mentaya Hilir Selatan, sekaligus memetakan kebutuhan pembiayaan dalam upaya penanggulangan bencana.
“Di depan ini kami akan koordinasi dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, sembari kami memotret juga pembiayaan di masing-masing kecamatan. Kami berharap operasi penanggulangan bencana karhutla dan kekeringan ini bisa dimulai dari satuan bawah, dari desa kemudian naik ke kecamatan, baru ke kabupaten,” tegasnya.
Ia menambahkan, sejumlah wilayah yang masuk kategori risiko tinggi antara lain Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Ketapang, Baamang, dan Tualan Hulu.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan dari tingkat bawah, diharapkan penanganan karhutla dan kekeringan di Kotim dapat dilakukan lebih cepat dan efektif sebelum memasuki puncak musim kemarau.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post