SAMPIT – Lomba bagasing atau gasing tradisional menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian Festival Habaring Hurung Kotawaringin Timur (Kotim) 2026. Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim ini diikuti peserta dari hampir seluruh kecamatan, menunjukkan antusiasme masyarakat yang terus meningkat terhadap pelestarian permainan tradisional daerah.
Kepala Bidang Kesenian dan Budaya Disbudpar Kotim, Ahmad Santri Sos, menjelaskan bahwa lomba bagasing tahun ini dilaksanakan dengan sistem beregu, di mana setiap regu terdiri dari tiga orang peserta. Sistem pertandingan menggunakan sistem gugur dengan penilaian berdasarkan nilai tertinggi.
“Bagasing ini pakai sistem beregu, satu regu tiga orang. Sistemnya gugur, dari penilaian yang tertinggi nilainya kita ambil. Pertama diadu lalu batikam, siapa yang paling unggul itu yang menang dan mendapat lima kali kesempatan untuk masing-masing regu,” jelasnya, Kamis 8 Januari 2026.
Ia menyebutkan, total peserta yang mengikuti lomba cukup signifikan. Untuk kategori laki-laki terdapat 12 regu, sementara kategori perempuan diikuti enam regu. Menariknya, lomba ini terbuka untuk pelajar maupun masyarakat umum.
“Hampir semua kecamatan yang ada di Kotim ikut berpartisipasi, dan yang paling banyak pesertanya berasal dari Kecamatan Telaga Antang,” ungkap Ahmad Santri.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah peserta lomba bagasing mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Peningkatan ini didominasi oleh peserta dari beberapa wilayah pedesaan, seperti Desa Terantang, Tinduk, serta Kecamatan Telaga Antang.
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa permainan tradisional masih hidup dan diminati, khususnya di wilayah pedesaan.
Namun demikian, Ahmad Santri juga melihat adanya perkembangan positif di wilayah perkotaan.
Saat ini, sudah ada beberapa sekolah yang mulai aktif melestarikan permainan tradisional, termasuk bagasing, melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun event budaya.
“Untuk minat sendiri, kita melihat permainan tradisional ini memang banyak diminati di wilayah pedesaan, sementara di perkotaan sudah mulai tumbuh, bahkan ada beberapa sekolah yang aktif melestarikannya,” katanya.
Ke depan, pihaknya berencana menggandeng para pelatih bagasing untuk mengadakan pelatihan secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting agar regenerasi pemain tetap berjalan dan nilai-nilai budaya lokal tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Nanti kita bisa kerja sama dengan pelatihnya untuk mengadakan pelatihan bagasing ini sebagai upaya melestarikan permainan tradisional,” ujarnya.
Ia pun berharap ada sinergi yang lebih kuat dengan Dinas Pendidikan Kotim agar permainan tradisional, termasuk bagasing, dapat dimasukkan ke dalam pelajaran muatan lokal.
“Harapan saya ke depan, kita bisa bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memasukkan permainan tradisional ini ke muatan lokal, sehingga sejak Sekolah Dasar sudah ada peminatnya,” pungkas Ahmad Santri.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post