SAMPIT – Kecamatan Telaga Antang kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu daerah yang konsisten menjaga dan menghidupkan kearifan lokal Dayak dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Pada Festival Habaring Hurung Kotim 2026, Telaga Antang tercatat mampu mengikuti hampir seluruh cabang permainan tradisional yang diperlombakan oleh pemerintah daerah.
Camat Telaga Antang, Joko Aryadi Setiawan, menyampaikan bahwa pihaknya berhasil mengirimkan satu pasang peserta laki-laki dan satu pasang peserta perempuan untuk cabang bagasing. Tidak hanya itu, Kecamatan Telaga Antang juga ikut ambil bagian pada cabang balogo, manyumpit, lawang sekepeng, hingga karungut.
“Alhamdulillah, dari Kecamatan Telaga Antang hampir semua cabang yang diadakan oleh pemerintah daerah dalam rangka HUT Kabupaten Kotim ke-73 ini bisa kami ikuti,” ujarnya, Kamis 8 Januari 2026.
Ia menegaskan, keterlibatan aktif tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai camat yang merupakan putra daerah dan berasal dari suku Dayak, Joko merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memprioritaskan masyarakatnya agar tetap membudayakan kearifan lokal.
“Saya selaku Camat Telaga Antang, karena saya asli orang Dayak, memang memprioritaskan teman-teman dan masyarakat di tempat kami untuk membudayakan kearifan lokal, salah satunya balogo, bagasing, dan manyumpit. Ini adalah ciri khas orang Dayak dan jangan sampai ciri khas itu hilang,” tegasnya.
Menurutnya, kegiatan seperti Festival Habaring Hurung bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang penting untuk mengangkat kembali identitas budaya Kalimantan Tengah agar tetap hidup di tengah arus kemajuan zaman.
Ia pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatan kepada Kecamatan Telaga Antang untuk berpartisipasi secara maksimal.
“Kami mengucap syukur dan terima kasih kepada panitia karena sudah memberikan kesempatan, sehingga kami bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik,” ucapnya.
Lebih jauh, Joko berharap kegiatan kebudayaan semacam ini tidak hanya berhenti sebagai agenda tahunan. Ia mendorong agar ke depan bisa dijadwalkan lebih rutin, bahkan jika memungkinkan dilaksanakan dua kali dalam setahun.
“Harapan kami ke depan, kegiatan ini bisa diagendakan setiap tahun, atau bahkan bisa dua tahun sekali atau enam bulan sekali, supaya kebudayaan-kebudayaan Kalimantan Tengah bisa terangkat kembali,” katanya.
Menariknya, dari sisi peserta, Kecamatan Telaga Antang tidak menargetkan prestasi juara. Bagi mereka, partisipasi jauh lebih penting demi menjaga eksistensi budaya tradisional.
“Dari peserta sendiri, kami tidak menginginkan harus menjadi juara. Yang kami inginkan adalah partisipasi, supaya budaya-budaya seperti bagasing dan balogo tetap eksis di tengah kemajuan zaman,” ungkap Joko.
Ia juga menjelaskan bahwa di wilayah Kecamatan Telaga Antang, permainan tradisional hingga kini masih dilestarikan, terutama karena mayoritas desa merupakan desa pribumi.
Permainan seperti bagasing dan balogo biasanya dilakukan secara musiman, khususnya menjelang musim panen padi. Tradisi tersebut sarat dengan nilai filosofis yang diwariskan oleh leluhur.
“Dari nenek moyang kami dulu, permainan ini dilakukan menjelang panen padi dengan harapan padinya bisa berbuah bagus, seperti buah gasing, tidak kempes dan tidak dimakan hama. Itu filosofinya,” jelasnya.
Saat ini, pelaku utama permainan tradisional di Telaga Antang mayoritas adalah anak-anak. Sebagai pimpinan wilayah, Joko mengaku terus memberikan motivasi kepada masyarakat agar generasi muda tetap mencintai budaya sendiri. Ia bahkan turun langsung mengikuti kegiatan sebagai bentuk teladan.
“Saya selaku camat memberi motivasi kepada masyarakat, sehingga dengan adanya camat yang ikut kegiatan ini, masyarakat juga ikut termotivasi untuk melestarikan budaya kita,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post