SAMPIT – Nama Ir. Rendy Muhamad Iqbal, S.Si., M.Si., Ph.D., kembali mencuri perhatian setelah dosen muda Universitas Palangka Raya (UPR) itu meraih gelar doktor dengan capaian yang sulit ditandingi.
Pria kelahiran Sampit ini resmi menyelesaikan studi Ph.D. di bidang kimia di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan IPK sempurna 4.00 hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Penghargaan bergengsi juga menyusul keberhasilannya. Rendy dinobatkan sebagai lulusan terbaik program doktor dan menerima Chancellor Award, penghargaan tertinggi yang diberikan langsung oleh Canselor UTM, Kebawah Duli Yang Maha Mulia Seri Baginda Raja Permaisuri Agong Raja Zarith Sofiah.
“Pengakuan ini hanya diberikan kepada lulusan terbaik di setiap agenda wisuda di Malaysia,” kata sang Ayah, Ruslan, Sabtu 15 November 2025. Dalam perjalanan akademiknya, Rendy menunjukkan komitmen kuat pada riset. Selama studi, ia menulis tiga artikel sebagai penulis pertama di jurnal internasional bereputasi Q1/Q2 dengan total impact factor 11,7.
“Anak saya juga terlibat sebagai co-author dalam sejumlah publikasi lain,” ucapnya. Kemampuannya di dunia penelitian terbukti melalui deretan penghargaan, seperti Gold Medal dan Best of The Best Innovation pada ITEX 2023, Silver Medal di Inatex 2023, hingga MyMembrane Award 2023 sebagai peneliti muda terbaik bidang teknologi membran.
Pencapaian ini turut didukung oleh tiga promotor yang membimbingnya, yaitu Prof. Ts. Dr. Mohd Hafiz Dzarfan Othman dan ChM. Dr. Mohd Akmali Mokhter dari UTM, serta Prof. Dr. Deni Shidqi Khaerudini dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selama menempuh pendidikan, Rendy menerima beasiswa dari Program Degree by Research (DBR) BRIN dan mengerjakan penelitian kerja sama dengan Petronas Research Sdn Bhd (PRSB) tentang pengembangan teknologi membran untuk desalinasi air laut.
Perjalanan akademik Rendy dimulai jauh sebelum ia melangkah ke kampus internasional. Lahir dan besar di Sampit, ia menamatkan pendidikan di SMAN 1 Sampit sebelum melanjutkan studi sarjana di Universitas Brawijaya (2011–2015), magister di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (2016–2018), dan profesi insinyur di Universitas Lambung Mangkurat (2024–2025).
” Sejak 2018, anak saya sudah mengabdi sebagai dosen di Program Studi Kimia FMIPA UPR,” bebernya. Keberhasilan yang diraih Rendy menjadi bukti bahwa putra daerah mampu bersaing dan tampil di panggung global. Dengan dedikasi dan kerja keras, ia menunjukkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh tempat seseorang berasal, melainkan oleh tekad untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post