SAMPIT – Harapan besar bagi kebangkitan ekonomi wilayah selatan Kotawaringin Timur semakin menguat setelah Desa Lampuyang resmi menyiapkan lebih dari dua hektare lahan untuk pembangunan gudang dan infrastruktur pascapanen (IPP) milik Bulog. Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, Akhyannor, menyambut langkah itu dengan antusias dan menyebutnya sebagai momentum penting bagi masa depan ketahanan pangan daerah.
“Alhamdulillah tanah hibah itu kemarin ada tiga tempat. Ternyata tanah tersebut berbentuk sertipikat dan SKT yang dihibahkan oleh Kades Rege Lestari, Pak Safarudin. Luasnya lebih dari dua hektare dan sudah cukup untuk pembangunan gudang serta penempatan mesin. Saya sebagai ketua komisi sangat bangga dan semangat mengangkat ekonomi Lampuyang dan Kotim secara keseluruhan,” ujarnya, Sabtu 15 November 2025.
Saat ini pemerintah desa dan pihak Bulog tengah mengurus legalitas hibah menggunakan akta notaris agar proses berikutnya dapat segera dilaksanakan. Akhyannor menegaskan bahwa Komisi II siap mengawal tahapan ini, termasuk memastikan keinginan pemilik lahan agar pembangunan tidak tertunda. “Rencananya memakai akta notaris supaya jelas. Setelah itu barulah Bulog menindaklanjuti. Kita sangat mendukung agar pembangunannya tidak lambat,” tambahnya.
Ketua Komisi II DPRD Akhyannor kembali menegaskan dukungannya. “Semoga pemerintah pusat melalui Bulog segera merealisasikan ini. Manfaatnya akan sangat besar bagi Lampuyang khususnya dan Kotim umumnya,” tegasnya. Sebelumnya, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur, Muhammad Azwar Fuad, menjelaskan bahwa rencana nasional pembangunan 100 titik gudang dan IPP oleh Bulog pada 2026 menjadi peluang besar bagi Kotim.
Program itu merupakan bagian dari penguatan swasembada pangan pemerintah pusat. “Untuk memperkuat program Swasembada Pangan 2026, pemerintah berencana menyuntikkan modal melalui Bulog untuk pembangunan 100 gudang dan IPP. Kita di Kotim mengusulkan, dan mudah-mudahan disetujui,” kata Fuad.
Fuad menyebutkan bahwa pihaknya telah diminta mengajukan lokasi yang dinilai layak berdasarkan feasibility study. Bulog kemudian berkoordinasi dengan Pemkab Kotim, DPRD, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk menetapkan lokasi hibah tanah. Desa Lampuyang dipilih karena memenuhi syarat luas dan berada di kawasan sentra padi.
Tanah seluas 2,6 hektare yang dihibahkan Kepala Desa Rege Lestari dinilai ideal untuk membangun dua unit gudang kapasitas 3.500 ton (total 7.000 ton) beserta fasilitas modern seperti dryer, color sorter, mesin poles, dan peralatan penggilingan lainnya.
Jika usulan ini disetujui pusat, Bulog meyakini kapasitas penyerapan gabah petani akan meningkat drastis. Lokasi Lampuyang yang berada di jalur produksi menuju Kuala Pembuang juga memungkinkan Bulog menyerap gabah dari Seruyan. “Kita berharap bisa maksimal menyerap gabah, karena wilayah ini satu jalur dengan sentra padi Seruyan. Dengan fasilitas modern, pengeringan dan penggilingan akan jauh lebih baik sehingga beras tidak lagi banyak yang patah,” jelas Fuad.
Saat ini, masalah terbesar industri beras di Kotim adalah kapasitas pengeringan dan penggilingan yang tidak sebanding dengan lonjakan hasil panen. Produksi padi di Lampuyang sudah mencapai 5.000 hektare dan diperkirakan naik menjadi 9.000 hektare pada 2026. “Kalau satu hektare minimal dua ton, potensi gabah tahun 2026 bisa mencapai 36.000 ton. Tanpa gudang dan IPP modern, kualitas beras akan kalah bersaing,” ujarnya.
Dengan hadirnya fasilitas baru, Bulog optimistis Kotim dapat memproduksi beras premium secara konsisten. Selain meningkatkan efisiensi hulu-hilir, proyek ini juga dipandang sebagai pengungkit ekonomi masyarakat Lampuyang hingga Seruyan.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post