SAMPIT – Arah investasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai bergeser dari sektor hulu ke sektor hilir. Jika sebelumnya investor banyak menanamkan modal di bidang perkebunan, kini minat terbesar justru datang dari sektor pengolahan hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan kelapa dalam.
Kondisi ini disebut menjadi pertanda baik bagi pertumbuhan ekonomi daerah, terutama dalam mendukung hilirisasi industri yang menjadi fokus pemerintah. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kotim, Diana Setiawan, mengatakan bahwa meskipun investasi baru di sektor perkebunan menurun, minat terhadap pengembangan industri turunannya justru meningkat signifikan.
“Sampai hari ini dari sisi investasi perkebunan memang agak berkurang dibandingkan sebelum Satgas PKH datang. Investor baru di bidang perkebunan masih enggan mengurus izin baru. Namun, justru sekarang yang banyak masuk adalah hasil dari hilirisasi seperti pengolahan cangkang, CPO, kernel, dan sebagainya,” ujarnya, Senin 20 Oktober 2025.
Diana menjelaskan, saat ini terdapat tiga perusahaan besar yang mengurus izin pembangunan pabrik pengolahan CPO (Crude Palm Oil). Salah satunya berasal dari Sinarmas Group, yang telah mengantongi izin resmi dan sedang dalam tahap pembangunan.
“Sinarmas Group ini salah satu yang paling siap. Mereka akan membangun pabrik pengolahan yang tidak hanya menghasilkan CPO mentah, tapi juga produk turunan seperti cokelat, es krim, dan lainnya. Jadi konsepnya memang hilirisasi penuh dari hasil sawit,” jelasnya.
Selain Sinarmas, dua perusahaan besar lainnya juga telah mengajukan izin, namun masih dalam tahap verifikasi. Menurut Diana, keduanya telah memiliki lahan dan tinggal menunggu kelengkapan administrasi sebelum izin resmi diterbitkan.
“Dua perusahaan lagi sudah punya lahan dan berencana bangun di kawasan industri Bagendang. Izin sedang kami proses, karena kami tetap selektif agar seluruh kegiatan investasi sesuai dengan tata ruang dan regulasi,” tambahnya. Tak hanya dari sektor sawit, Kotim juga mulai menarik perhatian investor di bidang pengolahan kelapa dalam. Saat ini, sudah ada dua perusahaan yang masuk dan satu lagi dalam tahap penjajakan.
“Sekarang di kita ada dua pabrik kelapa dalam yang sedang berproses. Salah satunya masih belum melakukan kegiatan apa-apa, tapi jika nanti dua-duanya berjalan, maka total akan ada tiga pabrik kelapa dalam yang beroperasi di kawasan industri Bagendang,” kata Diana.
Menurutnya, perkembangan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong hilirisasi industri sebagai strategi memperkuat ekonomi daerah. Dengan semakin banyaknya investasi di sektor pengolahan, maka nilai tambah hasil perkebunan di Kotim akan meningkat pesat, sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat lokal.
“Kita dorong agar industri yang masuk benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Termasuk penyerapan tenaga kerja lokal dan tanggung jawab sosial perusahaan melalui program CSR,” tegasnya. Diana optimistis bahwa kawasan industri Bagendang akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi Kotim.
Selain letaknya yang sstasi d"zowlan denukaartumb,ahwa kawat30 Pdisetim juah memilpopanestaan beunt masi perkemng akan menjzonangan industan Teraka“tri Bagendoup in, melpopanes lorah. Den Termelumnya investan beser dari sektng hiliri,g di kbik pem_whwa kawasaiasuk benar-beba, perkemakan menjadi pugan indus menulebunan RD Kalimantan Te CSR,dahmngjelasnya.


