SAMPIT – Bencana banjir melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sejak awal September 2025. Berdasarkan laporan kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, sebanyak 7 kecamatan dan 20 desa terdampak dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 110 sentimeter.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa hasil kaji cepat merekomendasikan peningkatan status bencana. “Melihat kondisi lapangan dan tren peningkatan debit air di sejumlah wilayah, kami mengusulkan peningkatan status menjadi Siaga Darurat Bencana Banjir selama 48 hari kerja, mulai 12 September hingga 29 Oktober 2025,” ungkapnya, Sabtu 13 September 2025.
Rincian Desa Terdampak Berdasarkan rekap data, banjir terjadi di wilayah berikut:
Kecamatan Cempaga Hulu: Desa Sungai Ubar Mandiri, dengan ketinggian air 30–50 cm, 14 rumah terdampak.
Kecamatan Parenggean: Desa Beringin Tunggal Jaya (60–90 cm, 25 rumah terdampak), Desa Bajarau (peningkatan muka air hingga 110 cm pada 13/9/2025), dan Desa Barunang Miri (50–75 cm, 30 rumah terdampak).
Kecamatan Antang Kalang: Desa Sungai Hanya (20–70 cm, 125 rumah terdampak, 948 jiwa terisolasi akibat jalan putus).
Kecamatan Telaga Antang: Desa Tumbang Sangai, Beringin Agung, Agung Mulya, dan Tanjung Harapan (20–30 cm). Jembatan penghubung Agung Mulya–Tanjung Harapan putus sehingga dibangun jembatan darurat.
Kecamatan Bukit Santuai: Desa Lunuk Bagantung, Teweh Hara, Tumbang Sapia, Tumbang Penyahuan, Tumbang Tilap, dan Tumbang Kaminting (20–40 cm, satu fasum puskesmas pembantu ikut terdampak).
Kecamatan Tualan Hulu: Desa Tumbang Mujam dan Merah (20–50 cm).
Kecamatan Mentaya Hulu: Kelurahan Kuala Kuayan, Desa Bawan, dan Desa Tanjung Jariangau (20–40 cm).
“Hujan ekstrem jadi pemicu. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II sebelumnya mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan ekstrem di wilayah Kotim dan Katingan pada 10 September 2025,”bebernya.
Intensitas hujan yang mencapai lebih dari 150 mm/hari memicu naiknya debit sungai hingga meluap ke pemukiman.
Kondisi ini sejalan dengan siaran pers BMKG yang dirilis pada 13 September 2025. BMKG menyebut musim hujan tahun ini datang lebih cepat dari biasanya.
“Kondisi ini selain membawa potensi ancaman bencana hidrometeorologi, juga menjadi peluang bagi sektor pertanian. Itu bunyi siaran pers BMKG,”tegasnya.
Sejumlah langkah telah dilakukan, mulai dari normalisasi Sungai Bantanan sepanjang 800–1000 meter dengan dukungan dunia usaha, hingga pembangunan jembatan darurat oleh pemerintah desa di wilayah terdampak. Meski begitu, sebagian akses jalan poros desa dan dusun masih terputus akibat banjir.
BPBD Kotim terus berkoordinasi dengan kecamatan, desa, relawan, serta BWS Kalimantan II dan BMKG Stamet Sampit untuk melakukan pemantauan intensif. “Kami imbau masyarakat tetap waspada, terutama yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan dataran rendah. Potensi hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan,” tambah Multazam.
Meski tidak ada laporan evakuasi massal, banjir telah mengganggu aktivitas masyarakat di beberapa kecamatan. Jalan poros desa yang terendam hingga ratusan meter menyebabkan distribusi logistik dan mobilitas warga terhambat. “Fasilitas umum relatif aman, kecuali satu puskesmas pembantu di Desa Lunuk Bagantung yang ikut terdampak banjir,” ungkap Multazam.
BPBD memastikan koordinasi terus dilakukan agar penanganan bencana berjalan cepat dan tepat sasaran. Dengan status siaga darurat yang diusulkan, diharapkan pemerintah daerah dapat mengerahkan sumber daya lebih maksimal untuk membantu masyarakat terdampak.
Kesimpulan kaji cepat BPBD Kotim:
Kecamatan terdampak: 7
Desa terdampak: 20
Durasi banjir: 8–13 September 2025
Status: Diusulkan Siaga Darurat Banjir selama 48 hari (12 September–29 Oktober 2025).
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post