SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan dengan menghadirkan ulama muda nasional, Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I, yang membahas pentingnya ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah sebagai jalan menuju persatuan dan kemajuan bangsa.
Pj Sekda Kotim, Masri mengatakan kegiatan ini bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ajang untuk menyatukan tekad dan menyuburkan semangat nasionalisme.
“Tahun 2025 ini kita berada pada momen bersejarah, yaitu memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Usia delapan dekade ini adalah usia matang bagi sebuah bangsa untuk semakin dewasa, kuat, dan mandiri. Namun perjalanan panjang ini hanya akan bermakna jika kita senantiasa menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif,” tegasnya, Selasa 26 Agustus 2025.
Masri menekankan pentingnya tema seminar yang diusung, yakni ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Menurutnya, persaudaraan baik dalam ikatan keagamaan maupun kebangsaan merupakan pondasi kemajuan.
“Kotim sebagai miniatur Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya. Jika kerukunan terjaga, maka pembangunan akan lancar, kesejahteraan bertambah, dan generasi muda akan hidup dalam lingkungan yang damai serta bermartabat,” ucapnya.
Dalam semarak HUT RI ke-80, Masri mengajak masyarakat untuk menumbuhkan cinta tanah air melalui aksi nyata.
“Cinta tanah air bukan hanya diwujudkan lewat upacara atau simbol formal, tetapi bekerja dengan tulus, berkarya dengan ikhlas, dan berkontribusi sesuai peran masing-masing,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi atas kehadiran Habib Segaf yang dinilainya mampu memberikan pencerahan serta meneguhkan pemahaman bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Kotim, Rudianur, menilai seminar ini memiliki dampak positif dan perlu digelar secara berkelanjutan, terutama untuk kalangan ASN dan pelajar.
“Memang rasanya beberapa tahun ini baru kali ini diadakan wawasan kebangsaan berkaitan dengan ukhuwah Islamiyah terhadap pemerintah. Jangan cuma sekali, mungkin di akhir tahun bisa diadakan lagi dalam bentuk yang lebih luas,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pendidikan wawasan kebangsaan sejak dini agar generasi muda bisa memahami makna saling menghormati.
“Hari ini mereka dapat ilmu dasar bahwa wawasan kebangsaan itu isinya saling hormat-menghormati. Kalau dulu ada P4, pedoman penghormatan pada Pancasila, maka hari ini bentuknya seperti ini. Kalau diberikan sejak SMP, madrasah sampai tingkat atas, mereka bisa mengendalikan diri dengan baik. Insya Allah ini juga bisa menekan pergaulan bebas di kalangan remaja,” tandasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post