SAMPIT – Sungai Babaung di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, dikenal sebagai salah satu kawasan rawan kemunculan buaya muara. Beberapa kali buaya berukuran besar terlihat muncul di sekitar sungai ini, terutama di dekat Pondok Pesantren Tahfdizul Qur’an Darul Iman. Namun, meski bahaya terus mengintai, para santri ini terpaksa tetap mandi dan mencuci di sungai tersebut karena keterbatasan fasilitas.
“Yang paling membuat kami miris adalah lokasi pondok itu termasuk yang paling rawan. Bahkan, menurut keterangan kepala desa, buaya besar sudah beberapa kali terlihat di sekitar lokasi para santri mandi. Tapi karena tidak ada pilihan lain, mereka tetap mandi di lanting,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, Sabtu 26 April 2025.
Lanjutnya, pada Kamis 24 April lalu, BKSDA memasang 10 spanduk imbauan waspada buaya di Kecamatan Pulau Hanaut, wilayah yang berada tak jauh dari muara Sungai Mentaya, habitat alami buaya muara.
Dalam sepuluh tahun terakhir, lima kasus serangan buaya terjadi di wilayah ini, dua di antaranya merenggut korban jiwa. Laporan kemunculan buaya juga kerap diterima dari warga sekitar.
Menurut Muriansyah, pondok pesantren yang berlokasi hanya 10-15 meter dari Sungai Babaung, anak Sungai Mentaya, belum memiliki fasilitas MCK yang memadai.
“Hanya ada satu bak mandi berukuran 5×5 meter dengan tinggi satu meter, namun kondisi bak tersebut sudah rusak dan tak cukup menampung puluhan santri,”bebernya.
Jarak sungai dengan muara Mentaya yang hanya sekitar 400-500 meter memungkinkan buaya besar masuk ke Sungai Babaung saat air pasang.
“Otomatis ini perlu solusi nyata. Kita tidak bisa sekadar melarang santri mandi ke sungai kalau tidak ada fasilitas alternatif. Mereka sendiri sebenarnya takut, tapi kondisi tidak memungkinkan,” jelasnya.
Bahkan saat sosialisasi kata Muriansyah, para santri meminta bantuan penambahan bak mandi agar mereka tak perlu lagi ke sungai. Namun, di sisi lain BKSDA mengaku tidak memiliki program maupun anggaran untuk pengadaan fasilitas MCK.
Karena itu, Muriansyah mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait agar dapat membantu mengatasi persoalan tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Babaung Bahrianur mengatakan hingga kini belum pernah ada usulan dari pihak pondok pesantren terkait penambahan fasilitas MCK. Namun, dengan adanya peringatan dari BKSDA, hal ini akan menjadi perhatian pemerintah desa.
“Nanti akan kami usulkan penambahan fasilitas MCK dengan harapan bisa mencegah serangan buaya, karena memang di lokasi itu beberapa kali terlihat buaya,” ucapnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post