SAMPIT – Penasehat Perkumpulan Sosial Bakti Sampit Santojoanes menyampaikan, perayaan cap go meh bisa menjadi pemersatu bagi seluruh warga tionghoa tanpa adanya pembedaan suku dan agama.
“Cap Go Meh itu lebih pada semacam budaya yang mentradisi dan itu dimulai pada abad ke-7 yang kemudian menjadi tradisi yang berlaku internasional. Jadi bukan diklaim sebagai kepunyaan suku tertentu atau agama tertentu,”ujarnya.
Pria yang kerap disapa Eeng ini juga menjelaskan, Cap Go Meh merupakan perayaan penutup dari Imlek sekaligus syukuran, karena biasanya di tanggal 15 yang bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh, juga muncul bulan purnama.
“Kita menandai bulan purnama itu sebagai sesuatu yang cerah. Nah itu menandakan sebuah harapan dan menjadi salah satu makna yang bisa diambil dari perayaan Cap Go Meh,”ujar Eeng yang juga menjadi Ketua Panitia perayaan Cap Go Meh bersama di Kota Sampit.
Tambahnya, pada perayaan Cap Go Meh Tahun 2025 ini pihaknya mengangkat tema keberagaman mempererat persatuan.
“Karena kita ini dari berbagai suku, ada banyak sekali agama juga bahkan kami warga Tionghoa ini ada yang mualaf. Tetapi dalam tradisi ini, kita menyatu dan menanggalkan semua perbedaan itu. Sehingga sesuai dengan tema yang diambil,” jelasnya.
Melalui perayaan ini juga menurutnya menjadi ajang untuk mempererat persatuan dan silaturahmi dengan harapan ketika rasa persaudaraan semakin erat, kedepannya ketika membuat visi misi sosial misalnya kepedulian terhadap bencana dan sebagainya, dengan saling mengenal satu sama lain diharapkan apa yang ditujukan dapat berjalan dengan lancar.
“Pada perayaan Cap Go Meh ini sendiri dilakukan setiap tahun yang mana sebelumnya selama 6 tahun kita sempat vakum karena terkendala pandemi dan lain sebagainya, baru tahun 2025 ini kami bisa merayakan kembali,” bebernya.
Dan dirinya menegaskan perayaan Cap Go Meh ini merupakan tradisi bukan bagian daripada agama tertentu. Sehingga asalkan berasal dari warga Tionghoa maka bisa ikut merayakan.
“Perayaan Cap Go Meh yang merupakan rangkaian penutup bulan dalam perayaan Imlek juga biasanya disebut sebagai pesta lampion, di mana warga Tionghoa akan beramai-ramai memasang lampion dengan tujuan untuk mengusir hama-hama dan binatang-binatang yang mengganggu petani-petani kita,” tutupnya.
(dia/matakalteng)



















Discussion about this post