SAMPIT – Sebanyak lima santri dari TPQ Ahbabul Qur’an dari Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur berhasil lulus tashih (tes) tingkat nasional yang diselenggarakan di Banjarbaru belum lama ini. Dimana, Khataman Qur’an dan Imtihan (uji publik) ini merupakan ke-3 dilakukan TPQ Ahbabul Qur’an (AQ) Sampit.
“Khataman dan imtihan adalah puncak rangkaian yang menandai bahwa santri dinyatakan lulus mengikuti proses pendidikan ilmu-ilmu dasar al Qur’an,” kata Pimpinan TPQ Ahbabul Qur’an, Ustad Achmad Robita, Minggu 9 Februari 2025.
Menurutnya, tes atau tashih merupakan prosedur yang harus diikuti santri sebelum khataman. Yang mana dalam tes ini menggunakan metode Qiroati atau metode membaca Al-Qur’an yang dibaca langsung tanpa ejaan dan tartil sesuai kaidah tajwid.
Sebelum dinyatakan lulus, 5 santri ini telah mengikuti rangkaian tes mulai dari tingkat lembaga (TPQ), pra-tes di tingkat koordinator kecamatan, dan terakhir harus melalui EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiroati) yang dilaksanakan di Banjarbaru dengan menjawab delapan cabang materi dari penguji pusat.
Delapan materi itu meliputi Fashohah, Tartil, Ghorib, Tajwid, Praktik Bersuci, Praktik Solat, Hafalan Surat Pendek, dan Hafalan Doa Harian. “Dalam metode ini, santri dibiasakan membaca Al-Qur’an dengan benar, lancar, cepat, dan tepat (LCTB). Serta tidak dieja, tetapi langsung dibaca. Pengajarnya tidak boleh menuntun bacaan pada santri, hanya ditunjuk bacaannya,” jelas Ustad Robita.
Dikatakannya, TPQ Ahbabul Qur’an yang beralamat di Jalan Delima 6 merupakan satu-satunya TPQ yang menggunakan metode Qiroati di Kalteng. Namun kini sudah ada beberapa lembaga di Sampit yang siap bergabung menggunakan metode tersebut. Metode Qiroati adalah metode baca Quran yg disusun oleh alm. KH Dahlan Salim Zarksyi asal Semarang dan termasuk metode tertua di Indonesia.
Diketahui, penggunaan metode ini memudahkan mempelajari bacaan Al-Qur’an secara cepat dan tepat, membiasakan membaca Al-Qur’an dengan benar serta membantu pengajar mengaji memaksimalkan proses bimbingan dan pembelajaran.
“Metode ini sudah kita terapkan di TPQ Ahbabul Qur’an, karena metode ini dapat digunakan oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Dan dalam beberapa bulan terkahir TPQ Ahbabul Quran menerapkan sistem waiting list (daftar tunggu) dalam menerima santri karena terbatasnya jumlah pengajar dan gedung,”imbuhnya.
Meski demikian kata Ustad Achmad Robita yang juga sebagai Ketua NU kotim ini, menyatakan bahwa pihaknya terus menggenjot upaya pembinaan guru untuk menutupi kekurangan jumlah pengajar ini, di samping upaya perluasan gedung untuk menampung lebih banyak santri yang pada saat ini jumlahnya lebih dari 100 santri dan terus bertambah.
(dia/matakalteng)












Discussion about this post