SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan saat ini terjadi peningkatan dan melanda sejumlah wilayah di kabupaten Kotawaringin Timur. Kabut asap bahkan mulai menyelimuti Kota Sampit dan amat pekat saat di pagi hari.
“Kabut asap akibat kebakaran hutan atau lahan ini sudah mulai terasa sejak 2 hari terakhir, kabut asap dengan aroma sisa kebakaran lahan yang cukup menyengat cenderung lebih tebal pada pagi hari,”kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotim, Agus Mulyadi, Kamis 19 September 2024.
Namun munculnya kabut asap pada pagi hari itu tidak berlangsung lama, kabut asap berangsur menipis dan hilang seiring dengan munculnya terik sinar matahari dan kuatnya tiupan angin.
“Warga yang beraktivitas di luar rumah dihimbau menggunakan masker ketika kabut asap muncul, hal ini mencegah terkena penyakit ISPA,”tegasnya.
Menurutnya Berdasarkan indeks standar pencemaran udara ispu di wilayah kabupaten Kotim pada 19 September 2024 ini sudah menunjukkan perubahan dari zona biru ke kuning yang menunjukkan zona kurang sehat.
“Dari pantauan sejak 24 jam terakhir ada terdapat 14 hotspot yang tersebar di kecamatan Antang Kalang, Bukit Santuai, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan dan Cempaga Hulu. Namun beberapa hari terakhir ini ada sejumlah kejadian kebakaran lahan yang tidak tertangkap satelit sebagai hotspot karena awan tebal terutama di kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang,”bebernya.
Sementara itu Ketua RT 35, Kelurahan Baamang Barat Januar menyampaikan, areal perumahan di lingkungannya memang kerap kali menjadi sasaran kebakaran lahan terutama karena banyak lahan kosong di wilayah itu.
“Bahkan dalam seminggu terakhir kami bersama masyarakat peduli api (MPA) Graha Pramuka selalu melakukan pemadaman di sekitar perumahan, pasalnya api semakin membesar akibat tiupan angin yang kencang dan mendekati area permukiman,”bebernya.
Menurut Janu, kondisi lahan gambut tebal di sekitaran Jalan Pramuka menjadi kendala dalam melakukan pemadaman kebakaran lahan. Bahkan beberapa kali setelah pihaknya berhasil memadamkan api keesokan harinya api kembali menyala.
“Karena biasanya api masih hidup di bawah tanah, sementara pemadaman kami terbatas menggunakan alat seadanya dan tidak bisa mencapai pendinginan sampai ke bawah tanah. Hal itu menyebabkan api beberapa kali muncul kembali dan diperparah kondisi angin kencang, sehingga api cepat membesar dan menyebar seperti pada hari ini di sekitar kebun nanas warga.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post