SAMPIT – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur Multazam menyampaikan, pembakaran lahan secara disengaja menjadi faktor utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di kabupaten Kotawaringin Timur.
“Karena sebagian besar dari kejadian karena di Kotim karena unsur kesengajaan yang dilakukan oleh oknum masyarakat dengan alasan membuka lahan ataupun membersihkan lahan,” ujarnya, Senin 16 September 2024.
Dirinya juga menyebutkan, temuan hotspot di wilayah Kotim banyak terjadi di wilayah utara yang artinya ada potensi terjadinya karhutla. Namun faktanya pada tahun 2024 ini, di wilayah utara nihil kejadian karhutla.
“Pada tahun 2024 ini penemuan hotspot terjadi penurunan yaitu 168 hotspot terhitung sejak Januari sampai dengan September 2024. Sementara jika dibandingkan pada tahun 2023 lalu mencapai 10.368 hotspot,” bebernya.
Tambahnya, temuan hotspot paling banyak pada tahun 2024 ini berada di kecamatan Telaga Antang yaitu sebanyak 38 hotspot, kemudian Kecamatan Cempaga Hulu 22 hotspot, Kecamatan Antang Kalang 17 hotspot dan Kecamatan Mentaya Hulu sebanyak 14 hotspot.
“Melihat kondisi saat ini yang sudah dapat dikendalikan bahkan kejadian karhutla juga sudah berkurang, posko karhutla sudah diberhantikan. Namun status siaga karhutla yang sebelumnya ditetapkan selama 90 hari Mulai dari 4 Juli sampai dengan 1 Oktober 2024 masih tetap berlaku,” ucapnya.
Yaitu per tanggal 1 September personil yang tergabung dalam posko penanggulangan bencana karutla yaitu dari Polres Kotim, Kodim 1015 Sampit, Manggala Agni serta personil dari BPBD sendiri dikembalikan kesatuan tugasnya masing-masing.
Dari data BPBD sejak awal tahun ada 37 kejadian Karhutla yang tertangani, dan ada juga yang tidak tertangani. Jadi total kejadian karhutla sejak awal tahun sampai sekarang mencapai 40 kejadian yang mana tercatat lahan yang terbakar seluas 37,5850 hektare yang tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Kotim.
“Untuk Kecamatan terbanyak yang terjadi karhutla yaitu di wilayah Tengah Kotim seluas 30,6400 hektare atau 81,52% dari lahan yang terbakar, meliputi Kecamatan Kota Besi seluas 7,1600 hektare, Kecamatan Cempaga seluas 15,8000 hektare,” bebernya.
Kemudian Kecamatan seranau 2,000 hektare dan 17 kejadian terbanyak terjadi di kecamatan Baamang seluas 5,6800 hektare lahan yang terbakar.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post