SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meminta sekolah yang siswanya tidak mau divaksin agar proses belajar mengajar (PBM) di sekolah atau pembelajaran tatap muka (PTM) diberhentikan.
“Kalau ada sekolah yang siswanya tidak mau divaksin Covid-19 karena tidak mendapat izin orangtua, pembelajarannya ditutup saja,” tegas Halikinnor, belum lama ini.
Karena siswa yang belum divaksinasi dinilai akan lebih rawan terpapar Covid-19. Pasalnya pemberian vaksin bertujuan untuk membentuk kekebalan tubuh. “Kalau di perkotaan, sudah semua, ini di daerah pedalaman saja, karena mereka masih menganggap aman,” imbuhnya.
Disebutnya, itu juga akan berpengaruh terhadap capaian vaksinasi Covid-19 di kecamatan tersebut. Hal itu salah satu kendala yang menyebabkan capaian vaksinasi di Kotim lambat tercapai. “Makanya kita harus tegas melakukan tindakan agar vaksinasi Covid-19 segera tercapai di Kotim,” tegasnya.
Sementara pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Susiawati memastikan bahwa sekolah yang ada di Kotim baik tenaga pendidik maupun peserta didiknya telah menerima vaksinasi Covid-19. “Karena untuk melaksanakan PTM itu sudah ada syaratnya, sesuai dengan surat keputusan bersama (SKB) 4 Menteri,” ungkapnya.
Wilayah yang berada pada PPKM level tiga, syaratnya satuan pendidikan yang capaian vaksinasi dosis 2 pendidik dan tenaga kependidikan paling sedikit 40 persen dan capaian vaksinasi dosis 2 warga masyarakat lanjut usia paling sedikit 10 persen di tingkat kabupaten/kota, pembelajaran tatap muka terbatas dilaksanakan: setiap hari secara bergantian jumlah peserta didik 50 persen dari kapasitas ruang kelas lama belajar paling banyak 4 jam pelajaran per hari.
“Dan Kotim sudah masuk syarat itu, bahkan capaian vaksinasi untuk tenaga pendidik dan peserta didik sudah cukup tinggi sekarang. Jadi saya pikir sekolah yang dimaksud Bupati itu bukan satuan pendidikan dibawah kita,” terangnya.
Namun pihaknya akan kembali melakukan evaluasi kembali dan terjun ke sejumlah daerah untuk memastikan hal tersebut, salah satunya di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.
“Jadi kami akan memantau ke lapangan untuk memastikan itu, jika memang ada sekolah yang seperti itu, mungkin bukan sekolahnya yang ditutup tapi PTM nya yang diganti dengan daring,” jelasnya.
(dev/matakalteng.com)





















Discussion about this post