SAMPIT – Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Halikinnor, menghadiri ritual adat Maluput Hajat Bagantung Langit Batuyang Hawun yang digelar di Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Telaga Antang, dalam rangka melestarikan tradisi budaya masyarakat Dayak sekaligus mempererat nilai spiritual dan kebersamaan, Minggu 26 April 2026.
“Pada kesempatan ini saya atas nama pribadi dan juga selaku Bupati Kotawaringin Timur mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan dan masyarakat Desa Tumbang Boloi serta seluruh panitia pelaksana atas terlaksananya kegiatan ini, semoga kita yang hadir pada saat ini dalam keadaan sehat wal afiat, Aamiin Yarabbal Alamin,” ucap Halikinnor, Minggu 26 April 2026.
Halikinnor mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena masih diberikan kesempatan menghadiri ritual membayar hajat atau Maluput Hajat Bagantung Langit Batuyang Hawun, yang dimaknai sebagai upaya melepaskan kondisi ketidakpastian hidup dan harapan yang menggantung.
Ia menjelaskan, Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki wilayah yang luas sekitar 16.796 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 454.515 jiwa per Desember 2024, yang tersebar di 17 kecamatan, 17 kelurahan, dan 168 desa, dengan keberagaman suku yang menjadi kekayaan budaya daerah.
“Di tengah pesatnya arus modernisasi, pelestarian ritual bayar hajat tetap harus dijaga. Peran balai adat dan komunitas budaya dinilai sangat penting untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda, bahkan menjadi daya tarik wisata budaya di Kalimantan Tengah,”ucapnya.
Halikinnor menegaskan bahwa ritual bayar hajat merupakan tradisi sakral masyarakat Dayak yang tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur, tetapi juga sebagai bentuk permohonan keberkahan dan pelunasan nazar kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ia menyebut, ritual tersebut menjadi wujud komunikasi antara manusia dengan kekuatan supranatural, sekaligus menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan roh leluhur. “Tujuan pelaksanaannya pun beragam, mulai dari memohon keselamatan, kesembuhan, hingga keberhasilan dalam kehidupan,”tegasnya.
Lebih lanjut, Halikinnor menilai ritual bayar hajat merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai spiritual tinggi dan mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam serta sesama manusia.
“Ritual hajat merupakan bentuk doa yang secara umum dapat dijumpai dalam semua agama. Ini adalah kecenderungan manusia untuk menyampaikan isi hati kepada Sang Ilahi, sebagaimana masyarakat Dayak yang mengungkapkannya melalui mantra tawur sebagai permohonan kehidupan yang lebih baik, kekuatan, kecerdasan, semangat, ketenangan hati, serta kemudahan dalam memahami kehidupan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Halikinnor juga menyampaikan bahwa kehadirannya tidak hanya untuk mengikuti ritual adat, tetapi juga dalam rangka kunjungan kerja ke Kecamatan Telaga Antang, termasuk agenda peresmian SMA PGRI Telaga Antang sebagai bagian dari upaya peningkatan akses pendidikan di wilayah tersebut.
Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Dayak tetap terjaga, sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan zaman.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post