SAMPIT – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Umar Kaderi, menegaskan bahwa daerahnya mulai mengarah pada sistem layanan kesehatan berbasis data melalui penunjukan dua desa sebagai lokasi uji coba nasional integrasi layanan primer.
“Alhamdulillah, ada dua desa yang menjadi lokasi fokus pilot project dari Kementerian Kesehatan terkait mitigasi layanan primer. Di sana tenaga kesehatan ditugaskan untuk mendata seluruh penduduk,” ujar Umar Kaderi, Sabtu 25 April 2026.
Menurutnya, pendekatan yang diterapkan tidak lagi mengandalkan pola lama berbasis kunjungan pasien, melainkan memanfaatkan teknologi digital untuk menghimpun data kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan terintegrasi.
Ia menjelaskan, setiap warga akan memiliki rekam data lengkap yang mencakup identitas, riwayat penyakit, tindakan medis yang pernah diterima hingga keluhan kesehatan yang dialami.
“Setiap warga akan terdata, mulai dari identitas, riwayat penyakit, tindakan yang pernah diterima hingga keluhan yang dialami. Dari situ kita bisa menganalisis potensi penyakit seperti hipertensi, diabetes, atau lainnya,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, pemerintah daerah dapat membaca pola kesehatan masyarakat secara lebih akurat dan cepat, termasuk mengetahui jenis penyakit yang dominan di suatu wilayah.
“Yang menentukan kondisi kesehatan itu dari data aplikasi. Kita tinggal membaca, di desa ini kasus apa yang tinggi dan langkah apa yang harus dilakukan,” katanya.
Program ini merupakan bagian dari arah baru kebijakan kesehatan nasional yang menitikberatkan pada upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit, bukan sekadar pengobatan.
Umar menyebut, pelaksanaan program telah dimulai sejak 2025 dengan dukungan pembiayaan dari lembaga internasional seperti World Bank serta pendampingan teknis dari Kementerian Kesehatan.
“Mereka mendampingi kita mulai dari tahapan, langkah yang harus dilakukan hingga evaluasi. Nanti hasilnya akan dilihat langsung oleh tim kementerian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pendekatan layanan juga mulai beralih ke sistem berbasis klaster yang lebih terintegrasi dibandingkan pola lama berbasis poli.
Dengan sistem ini, skrining kesehatan masyarakat dilakukan secara menyeluruh, mencakup penyakit menular seperti tuberkulosis hingga penyakit tidak menular seperti hipertensi.
“Harapan kita, kalau ini berjalan baik, semua desa di Kotim bisa menerapkan sistem ini sehingga kita bisa mendeteksi lebih awal berbagai penyakit dan menentukan langkah penanganan yang tepat,” tandasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post