SAMPIT – Penulisan berita feature harus mampu memunculkan kehaluan bagi pembaca, sehingga pembaca bisa merasakan suasana dari apa yang ditulis jurnalis bahkan bisa membayangkan bentuk hingga ekspresi yang disampaikan penulis.
“Dalam penulisan feature, bagian tulisan jurnalistik dengan memasukkan unsur 5 W plus 1 H, namun tidak selalu harus mengikuti rumus piramida terbalik,” kata Anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kotawaringin Timur (Kotim), Gunawan, Senin 21 Agustus 2023.
Menurutnya, karya jurnalistik berupa feature penulisannya menggunakan gaya bahasa sastra, bercerita atau bertutur (story telling) pada beberapa gaya penulisan, feature mengadopsi gaya penulisan cerpen atau novel.
“Penulisan juga merujuk pada kisah yang nyata atau benar-benar terjadi (faktual). Opini yang disisipkannya pun berdasarkan fakta, umumnya mengandung sisi human interest, yakni memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi seperti menghibur, memunculkan empati, dan kehaluan,” jelasnya.
Sementara itu, tips dan trik untuk menulis feature pertama tidak bisa dadakan seperti meliput berita peristiwa umumnya. Harus melalui perencanaan matang, sisi apa saja yang akan digali dan ditonjolkan.
“Saat meliput berita feature di lapangan, semua panca indra kita harus dimaksimalkan. Apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan, bisa dituangkan dalam tulisan. Ada kalanya kita tak bisa mengingat dengan jelas. Karena itulah perlunya kita mencatat apa saja yang kita temui saat peliputan. Hal remeh temeh pun bisa jadi tulisan menarik apabila diulas dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, perbanyak kosakata dan diksi dengan sering- sering membaca berita feature, investigasi, indepth news, atau novel.
(dia/matakalteng.com)





















Discussion about this post